BISNIS.HOTNEWS.ID - PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) menghadapi tantangan signifikan pada awal tahun 2026, di mana perseroan membukukan kerugian bersih yang cukup besar. Kerugian yang tercatat mencapai Rp8,29 miliar selama periode Januari hingga Maret 2026.
Kondisi ini merupakan pembalikan signifikan jika dibandingkan dengan kinerja pada kuartal I tahun 2025. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, COAL masih mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp5,39 miliar, menunjukkan penurunan performa yang tajam.
Penurunan kinerja ini dipicu oleh ketiadaan aktivitas penjualan sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026. Berdasarkan data laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026, COAL mencatatkan penjualan sebesar Rp0.
Angka penjualan nol ini sangat kontras dengan capaian kuartal I 2025, di mana perseroan berhasil membukukan penjualan senilai Rp126,52 miliar. Ketiadaan pendapatan tersebut secara langsung menghilangkan kemampuan perusahaan untuk menutupi beban operasional.
Akibatnya, laba bruto COAL pada kuartal I 2026 menjadi nol, berbeda dengan kuartal I 2025 yang mencatatkan laba bruto sebesar Rp19,74 miliar. Meskipun tanpa penjualan, perusahaan tetap harus menanggung berbagai pos pengeluaran.
Beban umum dan administrasi COAL tercatat sebesar Rp4,84 miliar, meskipun angka ini telah berhasil ditekan 40,97% dibandingkan beban tahun sebelumnya yang mencapai Rp8,20 miliar. Selain itu, beban keuangan juga turut menekan kinerja dengan nilai Rp2,87 miliar.
Kejutan Finansial ANJT: Pendapatan Naik Tipis Namun Berakhir Tekor Signifikan di 2025
Perseroan juga mencatat kerugian atas selisih kurs sebesar Rp595,30 juta, meskipun jumlah ini lebih kecil dibandingkan kerugian kurs tahun sebelumnya yang mencapai Rp966,72 juta. Di sisi lain, pendapatan keuangan perusahaan ikut merosot tajam menjadi hanya Rp5,64 juta per Maret 2026, dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp72,07 juta.
Dikutip dari laman Bursa pada Minggu (7/6/2026), total aset COAL per 31 Maret 2026 masih tercatat sebesar Rp824,80 miliar, mengalami pertumbuhan 2,71% dari posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp803,02 miliar. Pertumbuhan aset ini didorong oleh peningkatan aset lancar menjadi Rp346,97 miliar.
Namun, kondisi neraca keuangan menunjukkan adanya pembengkakan liabilitas atau utang yang mencapai Rp466,94 miliar per Maret 2026, naik dari Rp436,87 miliar di akhir tahun 2025, dengan utang bank jangka pendek sebesar Rp195 miliar sebagai komponen terbesar.