BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan signifikan terjadi di kawasan Timur Tengah ketika Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran. Keputusan ini diambil sebagai respons langsung terhadap apa yang Iran anggap sebagai pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh Israel.

Langkah drastis ini muncul pada momen krusial, bertepatan dengan konfirmasi bahwa perundingan damai yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran akan segera dibuka. Pembicaraan penting tersebut dijadwalkan terlaksana di Swiss pada hari Minggu mendatang, tanggal 21 Juni.

Aksi blokade di jalur air strategis tersebut secara langsung menambah lapisan ketidakpastian pada meja perundingan yang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Meskipun demikian, dampak riil terhadap arus kapal tanker minyak masih menunggu evaluasi lebih lanjut.

Perlu dicatat bahwa bahkan sebelum gencatan senjata terbaru disepakati, sejumlah besar minyak mentah telah berhasil melewati jalur vital tersebut secara senyap setiap harinya. Hal ini menunjukkan kompleksitas upaya pemantauan penuh atas lalu lintas di Selat Hormuz.

Menurut informasi yang disiarkan oleh kantor berita semi-resmi Tasnim pada Sabtu (20/6), penutupan ini adalah respons operasional pertama yang diambil oleh Teheran. Keputusan ini merupakan tanggapan atas serangan berkelanjutan yang dilancarkan oleh militer Israel di wilayah Lebanon selatan.

"Komando Militer Gabungan Iran menegaskan penutupan ini merupakan langkah operasional pertama Teheran untuk merespons serangan berkelanjutan Israel di wilayah Lebanon selatan," demikian dikutip dari Tasnim.

Negosiasi damai yang sedianya dimulai lebih awal pada hari Jumat sempat mengalami penundaan. Penundaan tersebut dipicu oleh meningkatnya intensitas pertempuran antara pasukan Israel dan kelompok Hizbullah yang mendapat dukungan dari Iran di perbatasan Lebanon.

Meskipun sempat tertunda, sesi perundingan tersebut kini menunjukkan tanda-tanda akan berjalan sesuai rencana awal. Pemerintah Pakistan telah mengumumkan kesiapan delegasinya untuk menghadiri pertemuan penting tersebut.

Dijelaskan bahwa Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, bersama Panglima Militer Jenderal Asim Munir, sedang dalam perjalanan menuju Burgenstock, Swiss. Mereka dijadwalkan tiba untuk berpartisipasi dalam pembicaraan yang akan dimulai pada hari Minggu.