BISNIS.HOTNEWS.ID - Pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih telah mencapai tahap signifikan, dengan sekitar 15.000 unit bangunan kini berdiri di berbagai wilayah Indonesia. Keberadaan bangunan-bangunan ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan di tingkat desa dan kelurahan.

Namun, di tengah keberhasilan pembangunan tersebut, sejumlah masukan dari masyarakat mulai muncul ke permukaan. Terdapat temuan bahwa beberapa lokasi Kopdeskel Merah Putih dinilai belum sepenuhnya ideal, bahkan ada yang berlokasi di daerah terpencil atau pelosok.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Ferry Juliantono, memberikan klarifikasi. Ia mengakui adanya laporan mengenai beberapa lokasi Kopdeskel Merah Putih yang dianggap kurang strategis atau sulit dijangkau oleh masyarakat.

"Misalkan di media sosial (ramai soal) ada beberapa lokasi Kopdeskel Merah Putih yang dianggap tidak ideal," ujar Ferry Juliantono. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara yang berlangsung di program detikSore.

Menteri Ferry menambahkan bahwa setelah dilakukan penelusuran dan penjelasan lebih lanjut, jumlah unit Kopdeskel yang lokasinya dianggap tidak ideal ternyata tidaklah banyak. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas dari ribuan bangunan yang ada telah ditempatkan di lokasi yang strategis.

"Tapi, setelah kita jelaskan, bahwa yang tidak ideal itu berapa, di mana saja, ternyata kan angkanya tidak banyak," lanjutnya. Klarifikasi ini penting untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi riil di lapangan.

Pertanyaan mengenai "mengapa" beberapa lokasi tersebut dianggap tidak ideal dan "bagaimana" penanganannya menjadi fokus evaluasi. Isu ini muncul pada waktu yang tidak spesifik, namun dibahas dalam konteks perkembangan program Kopdeskel Merah Putih.

Pihak Kementerian Koperasi berupaya untuk terus memantau dan mengevaluasi kesiapan infrastruktur, termasuk penempatan lokasi Kopdeskel. Tujuannya adalah memastikan setiap unit dapat berfungsi optimal untuk melayani kebutuhan masyarakat.

"Kita melihat, ada beberapa lokasi Kopdeskel yang memang dianggap belum ideal," ungkap Menteri Ferry Juliantono. Pernyataan ini menegaskan kesadaran pemerintah terhadap masukan yang diterima dari publik.