BISNIS.HOTNEWS.ID - Kondisi pasar saham belakangan ini masih dipengaruhi oleh berbagai sentimen eksternal yang menciptakan ketidakpastian. Isu-isu seperti ketegangan geopolitik, volatilitas harga energi, dan arah kebijakan suku bunga global memaksa investor untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Dalam situasi yang penuh tantangan ini, investor mulai mengalihkan fokus mereka pada aspek fundamental perusahaan. Kriteria utama yang dicari adalah bisnis yang kuat, neraca keuangan yang sehat, serta kemampuan perusahaan untuk menghasilkan arus kas secara konsisten.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Suryawijaya, menilai bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini hanya bersifat sementara akibat sentimen negatif jangka pendek. Selain faktor global, ia juga menyoroti banyaknya informasi negatif domestik yang belum tentu akurat menyebar luas di masyarakat.

Menurut William, distraksi informasi ini membuat banyak pelaku pasar kehilangan fokus dan mengaburkan data fundamental yang sebenarnya. Ia menjelaskan bahwa aksi jual yang terjadi seringkali bukan murni karena sentimen negatif, melainkan disebabkan oleh mekanisme pasar seperti ketentuan margin call atau berakhirnya periode cum-dividen.

William Suryawijaya menyarankan agar para pelaku pasar kembali fokus pada penilaian fundamental perusahaan di tengah derasnya sentimen yang beredar. Ia menekankan pentingnya menjaga fokus pada kinerja nyata perseroan, "Jangan melenceng dari fokus. Market membutuhkan jati diri pelaku pasar Indonesia yang memiliki daya juang tinggi,” tegas William di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Beberapa sektor, termasuk energi dan utilitas, tetap menjadi perhatian utama karena memiliki infrastruktur strategis dan posisi pasar yang kuat, berbeda dengan kondisi pasar secara umum. Salah satu emiten yang menonjol dalam sektor ini adalah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), yang fundamental bisnisnya dinilai semakin solid.

Analis Bahana Sekuritas, Abdusshomad Cakra Buana, memaparkan bahwa anak usaha PGAS, Saka Energi, diproyeksikan menjadi penyangga keuntungan bersih seiring kenaikan harga minyak dunia. Ia memprediksi laba inti PGAS hingga akhir tahun ini dapat tumbuh minimal 3% secara Year on Year (YoY) mencapai USD332 juta.

Abdusshomad memberikan rekomendasi BELI (BUY) untuk saham PGAS dengan target harga Rp2.300 per saham, meyakini bahwa narasi pertumbuhan perusahaan ini masih sangat solid untuk jangka panjang. "Kami tetap merekomendasikan PGAS karena cerita pertumbuhannya masih solid,” ungkap Abdusshomad dalam risetnya.

Salah satu faktor pendukung utama adalah operasional infrastruktur pipa gas Cisem II yang dijadwalkan mulai beroperasi pada April 2026, yang diprediksi dapat meningkatkan pasokan gas ke Jawa Barat dan menambah volume distribusi. Selain itu, posisi kas perusahaan yang kuat meningkatkan potensi pembagian dividen yang menarik bagi investor.