BISNIS.HOTNEWS.ID - Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyoroti adanya dugaan praktik permainan harga dalam proses ekspor komoditas kelapa sawit Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam forum penting yang dihadiri oleh jajaran kabinet.
Fenomena yang diungkap oleh Presiden ini berkaitan dengan perbedaan harga jual sawit Indonesia di pasar internasional. Diduga, harga beli dari Indonesia jauh di bawah harga pasar global.
Hal ini kemudian berlanjut pada praktik penjualan kembali dengan selisih harga yang signifikan. Perusahaan mengekspor sawit dengan harga rendah dari dalam negeri, namun di pasar tujuan harganya melonjak drastis.
Akibat dari praktik tersebut, Indonesia diduga mengalami kerugian besar dalam bentuk kehilangan potensi pendapatan negara. Kerugian ini diestimasi sangat signifikan dari setiap transaksi ekspor.
"Jadi permainan seperti inilah yang menusuk hati kita," ujar Presiden Prabowo Subianto saat Sidang Kabinet Paripurna yang dipantau secara daring melalui YouTube Sekretariat Presiden pada Senin, 20 Juli 2026.
Lebih lanjut, Presiden menjelaskan mekanisme dugaan permainan harga tersebut. "Jadi perusahaan, dari Indonesia dia ekspor, begitu di sini dia jual Rp 14.000, dalam perjalanan ke Eropa, konon kabarnya berubah-ubah lagi kontraknya, sehingga di sana Rp 27.000," jelas beliau.
Implikasi dari selisih harga jual yang masif ini sangat merugikan perekonomian nasional. "Jadi kita hilang 50% kekayaan kita," tegas Presiden Prabowo.
Beliau menambahkan betapa besarnya dampak kerugian finansial yang dialami negara. "Satu kali perjalanan kita hilang 50% kekayaan kita," ujar beliau dalam kesempatan tersebut.
Temuan ini menjadi sorotan penting dalam upaya pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor ekspor unggulan seperti kelapa sawit. Perlu adanya evaluasi mendalam terhadap rantai pasok dan mekanisme penetapan harga ekspor.