BISNIS.HOTNEWS.ID - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (8/6/2026) diproyeksikan akan mengalami pelemahan terbatas. Analis memperkirakan rentang pergerakan indeks berada di antara level 5.250 hingga 5.850.

Proyeksi ini disampaikan oleh Dimas Wahyu Putra Pratama, CTA, selaku Retail Research & Investment dari Bahana Sekuritas, melalui riset yang dirilis hari ini. Ia mengidentifikasi bahwa arah pergerakan indeks masih dipengaruhi oleh sentimen negatif yang berasal dari pasar global maupun domestik.

"IHSG berpotensi melemah terbatas dengan range 5.250-5.850," ujar Dimas Wahyu Putra Pratama, CTA, dalam risetnya.

Kondisi pelemahan ini merupakan kelanjutan dari performa buruk pada penutupan sesi sebelumnya, di mana IHSG anjlok signifikan pada Jumat (5/6/2026). Saat itu, IHSG ditutup terkoreksi 245,01 poin atau setara 4,20% hingga menyentuh level 5.594.

Penyebab utama dari penurunan tajam tersebut adalah aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing yang tercatat mencapai Rp3.731 miliar pada hari Jumat. Sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar turut menjadi pemberat utama pergerakan indeks sepanjang sesi tersebut.

Saham-saham unggulan yang mengalami perlambatan signifikan termasuk BBCA yang turun 6,45%, BREN anjlok 10,25%, TLKM merosot 4,83%, BBRI turun 2,49%, dan DCII terpangkas 5,46%. Faktor eksternal juga turut menekan sentimen pasar secara keseluruhan.

Tekanan global datang dari bursa Wall Street yang ditutup melemah, khususnya akibat kejatuhan saham-saham di sektor teknologi chip. Selain itu, kekhawatiran investor meningkat menyusul sikap hawkish Federal Reserve setelah data Nonfarm Payroll AS tumbuh jauh di atas ekspektasi analis.

Sementara itu, dari sisi komoditas, harga minyak mentah Indonesia (ICP) untuk periode Mei 2026 ditetapkan sebesar 106,56 USD per barel. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 10,75 USD dibandingkan dengan harga pada April 2026 yang mencapai 117,31 USD per barel, sejalan dengan meredanya ketegangan geopolitik antara AS, Israel, dan Iran.

Di pasar domestik, nilai tukar Rupiah sempat melewati ambang batas psikologis Rp18.000 per dolar AS. Meskipun demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa tidak ada indikasi penarikan dana besar-besaran atau fenomena bank run terjadi di Indonesia.