BISNIS.HOTNEWS.ID - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencapai level Rp18.000 per dolar AS pada hari Kamis, 4 Juni 2026. Kejadian ini sontak menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar keuangan di Indonesia.
Menanggapi kondisi pelemahan mata uang domestik tersebut, Kementerian Keuangan menyatakan bahwa situasi tersebut masih berada dalam perhitungan dan analisis pemerintah. Hal ini menjadi salah satu latar belakang tekanan yang dihadapi pasar saham domestik.
PT Samuel Sekuritas Indonesia menganalisis bahwa pasar saham Indonesia sedang menghadapi tantangan domestik yang signifikan, menyebabkan kinerjanya jauh tertinggal dibandingkan pasar negara berkembang lainnya. Analisis ini disampaikan dalam sebuah acara temu media pada Kamis (4/6/2026).
Tae Yong Shim, Head of Equity Research PT Samuel Sekuritas Indonesia, menyoroti adanya perbedaan pergerakan pasar saham Indonesia dibandingkan negara berkembang lainnya. "Emerging market secara umum sedang bergerak positif, tetapi Indonesia justru bergerak berlawanan arah. Ketika MSCI EM naik 22,5% dan MSCI World naik 9,0%, pasar Indonesia masih turun 29,1%. Ini menunjukkan tekanan di pasar domestik masih cukup kuat,” ujar Tae Yong dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, Kamis (4/6/2026).
Data dari Samuel Tumbuh Bersama menunjukkan bahwa Indeks MSCI Emerging Market telah menguat 22,5% secara year-to-date (YTD), sementara MSCI World naik 9,0% YTD. Kontras dengan tren tersebut, pasar saham Indonesia justru mencatatkan penurunan sebesar 29,1% YTD, menjadikannya salah satu yang berkinerja terlemah.
Salah satu hambatan utama pemulihan pasar Indonesia, menurut Tae Yong, adalah isu domestik terkait perhatian MSCI terhadap aspek free float dan investability pasar saham tanah air. Isu ini berkaitan dengan transparansi struktur kepemilikan saham dan keandalan data saham yang benar-benar dapat diperdagangkan.
"Isu MSCI menjadi penting karena berdampak langsung pada persepsi investor global. Ketika transparansi free float dan investability masih dipertanyakan, investor cenderung menunggu bukti perbaikan sebelum kembali masuk lebih agresif ke pasar Indonesia,” kata Tae Yong.
Tae Yong menjelaskan bahwa pasar Indonesia memerlukan tiga prasyarat utama untuk mendapatkan re-rating, yaitu peningkatan likuiditas, pertumbuhan laba korporasi yang berkelanjutan, dan dukungan kebijakan yang kondusif. Meskipun demikian, proyeksi fundamental laba emiten LQ45 masih menunjukkan pertumbuhan positif hingga tahun 2027.
Dampak isu MSCI tersebut tidak hanya bersifat sentimen, tetapi berpotensi memengaruhi aliran dana pasif global, seperti yang terlihat dalam tinjauan MSCI Mei 2026. Dalam tinjauan tersebut, MSCI mempertahankan sejumlah pembatasan terhadap pasar Indonesia.