BISNIS.HOTNEWS.ID - Bank Indonesia (BI) secara proaktif terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan demi menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang, sektor perbankan, dan perekonomian secara keseluruhan. Langkah ini menjadi krusial dalam menopang stabilitas ekonomi nasional.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa salah satu strategi utama yang diterapkan adalah dengan terus membuka fasilitas lelang instrumen repurchase agreement (repo). Fasilitas ini tersedia dalam berbagai tenor, mulai dari 3, 6, 9, hingga 12 bulan, dan ditujukan bagi perbankan.

Lebih lanjut, BI juga melakukan ekspansi terhadap underlying transaksi repo. Perluasan ini mencakup obligasi dan/atau sukuk korporasi dari PT. Sarana Multi Infrastruktur (SMI) serta PT. Sarana Multigriya Finansial (SMF) dalam kerangka operasi moneter konvensional dan Pengelolaan Likuiditas Berdasarkan Prinsip Syariah Bank Indonesia (PASBI).

Selain melalui instrumen repo, Bank Indonesia juga aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN). Data menunjukkan bahwa sepanjang periode 2026 hingga 21 Juli 2026, total pembelian SBN telah mencapai angka signifikan sebesar Rp188,68 triliun.

Dari total pembelian SBN tersebut, sebesar Rp76,62 triliun merupakan pembelian yang dilakukan di pasar sekunder. Langkah ini menunjukkan komitmen BI untuk menyuntikkan likuiditas secara efektif ke dalam sistem keuangan.

"Langkah tersebut menjaga uang primer (M0) pada Juni 2026 tetap tumbuh tinggi (double digit) sebesar 14,1% (yoy)," demikian disampaikan Perry dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada Rabu, 22 Juli 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi dampak positif kebijakan tersebut terhadap pertumbuhan uang primer.

Melihat lebih dalam pada komponennya, pertumbuhan uang primer (M0) pada Juni 2026 ini utamanya didorong oleh pertumbuhan uang kartal yang tercatat sebesar 14,0% (yoy). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan peredaran uang tunai di masyarakat.

Pertumbuhan M0 juga turut dipengaruhi oleh giro bank umum yang berada di Bank Indonesia, yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 12,7% (yoy). Ini mengindikasikan adanya peningkatan saldo simpanan bank umum di bank sentral.

Dikutip dari Bloomberg Technoz, BI terus berupaya memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai melalui berbagai kanal, demi menjaga kelancaran aktivitas ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.