BISNIS.HOTNEWS.ID - Tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) belakangan ini menjadi sorotan utama di kalangan pelaku usaha, termasuk sektor ritel nasional. BI Rate diketahui telah menyentuh level 5,75% per Juni kemarin, memicu respons dari asosiasi peritel.

Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) secara resmi menyatakan keprihatinan mereka mengenai dampak dari kebijakan moneter tersebut. Kenaikan suku bunga ini secara langsung memengaruhi struktur biaya operasional dan investasi para peritel di Indonesia.

Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, mengakui bahwa kondisi kenaikan suku bunga acuan ini akan berimplikasi pada meningkatnya biaya investasi. Hal ini disebabkan oleh membengkaknya biaya bunga kredit yang harus ditanggung oleh para investor di sektor ritel.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Budihardjo Iduansjah menyampaikan pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi oleh anggotanya. Kenaikan suku bunga pinjaman memang menjadi beban tambahan bagi rencana ekspansi bisnis mereka ke depan.

Namun, Budihardjo juga melihat adanya potensi efek samping positif dari kenaikan suku bunga tersebut terhadap perekonomian secara umum. Ia menyoroti bahwa kenaikan suku bunga pinjaman biasanya diimbangi dengan kenaikan suku bunga simpanan masyarakat.

Kenaikan suku bunga simpanan ini diharapkan dapat memberikan insentif bagi masyarakat untuk menahan uang di bank, yang pada akhirnya diharapkan mampu mendorong konsumsi secara lebih kuat. Hal ini dapat menjadi penyeimbang bagi tekanan di sisi investasi.

"Memang ada beberapa investasi yang dibiayai oleh perbankan atau investasi yang kami parkirkan, ada kenaikan suku bunga," ujar Budihardjo Iduansjah saat dihubungi pada hari Minggu, 21 Juni 2026. Pernyataan ini menegaskan bahwa biaya dana (cost of fund) bagi peritel yang menggunakan pembiayaan bank memang meningkat.

Meskipun demikian, Budihardjo tetap optimis terhadap potensi peningkatan daya beli masyarakat kelas menengah ke atas. Ia memprediksi bahwa kondisi ini justru dapat menguntungkan sektor ritel fisik.

"Namun, dampak positifnya saya rasa lebih besar untuk bisa segera membuat daya beli meningkat. Kalangan menengah ke atas bisa menggunakan tabungannya untuk berbelanja kembali di Indonesia untuk menggunakan sektor ritel offline," sambungnya menegaskan pandangannya mengenai pergeseran perilaku belanja konsumen.