BISNIS.HOTNEWS.ID - Sektor peternakan ayam pedaging di Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan serius terkait harga jual di tingkat produsen. Para peternak mengeluhkan anjloknya harga ayam hidup di kandang yang menyebabkan kerugian finansial signifikan, bahkan mencapai ratusan juta rupiah bagi pelaku usaha skala besar.

Permasalahan utama yang dihadapi adalah ketidaksesuaian antara harga pasar aktual dengan Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini menimbulkan ketidakpastian ekonomi bagi para peternak yang telah mengeluarkan modal besar untuk pemeliharaan.

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mencatat bahwa harga ayam broiler di kandang masih tertahan pada kisaran Rp 15.500 hingga Rp 16.000 per kilogram (kg). Angka ini jauh dari ketentuan resmi yang seharusnya menjadi batas bawah harga jual bagi peternak.

Ketentuan resmi tersebut tertuang dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2024. Regulasi ini secara spesifik menetapkan Harga Acuan Pembelian Ayam di tingkat produsen berada pada angka Rp 25.000 per kg.

"Harga masih ke tahan Rp 15.500-16.000/kg. Belum bisa naik lagi," ujar salah satu peternak yang merupakan anggota Permindo, Asep Saepudin, saat dihubungi pada Sabtu (13/6/2026). Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan jual yang sangat kuat di pasar.

Asep Saepudin juga menjelaskan dampak finansial langsung dari kondisi pasar yang tidak menguntungkan ini. Ia memaparkan bahwa kerugian yang dialami sangat bervariasi tergantung pada skala populasi ternak yang dikelola oleh masing-masing peternak.

" (Kerugian) ratusan juta kalau yang punya populasi besar. Tapi kalau populasi kecil masih puluhaan karena per kg-nya masih rugi Rp 4.000," kata Asep Saepudin. Ini menggarisbawahi bahwa kerugian per kilogram masih terbilang substansial.

Situasi ini menyoroti adanya celah implementasi kebijakan HAP, di mana harga jual aktual di tingkat peternak tidak mampu mencapai batas minimum yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional. Pemerintah perlu meninjau ulang mekanisme pengawasan agar harga acuan dapat terealisasi di lapangan.

Dikutip dari sumber berita terkait, situasi ini memaksa peternak untuk terus berupaya mencari solusi agar kerugian tidak semakin membengkak. Diperlukan intervensi pasar yang efektif untuk menstabilkan harga jual ayam broiler sesuai regulasi.