BISNIS.HOTNEWS.ID - Sejarah kolonial Hindia Belanda menyimpan berbagai narasi kompleks, termasuk kisah mengenai para administrator perusahaan dagang yang kebijakannya menimbulkan dampak signifikan bagi masyarakat lokal. Salah satu kasus yang menyoroti ketegangan sosial tersebut adalah pengalaman pahit yang dialami oleh seorang pejabat di era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Tokoh sentral dalam narasi ini adalah Qiu Zuguan, seorang pejabat yang mungkin tidak seterkenal para Gubernur Jenderal VOC pada periode yang sama. Meskipun begitu, perannya sangat krusial dalam struktur administrasi VOC di Batavia saat itu.

Qiu Zuguan menjabat sebagai kepala lembaga Boedelkalmer, sebuah badan yang memiliki otoritas besar. Lembaga ini bertanggung jawab penuh dalam mengelola dan mengurus harta warisan milik warga keturunan Tionghoa yang bermukim di Batavia, kini dikenal sebagai Jakarta.

Kebijakan yang diterapkan oleh Qiu Zuguan melalui lembaga Boedelkalmer diduga keras menjadi pemicu utama kemarahan dan kebencian dari masyarakat Tionghoa di Batavia. Regulasi pajak dan pengelolaan warisan tersebut dianggap sangat memberatkan dan tidak adil oleh komunitas yang bersangkutan.

Alasan utama di balik kebencian publik terhadap Qiu Zuguan berakar pada kebijakan pajak yang dianggap menjepit dan menindas warga Batavia. Penekanan ekonomi ini menciptakan atmosfer permusuhan yang mendalam terhadap figur pejabat tersebut.

Puncak dari kisah tragis ini adalah nasib jenazah Qiu Zuguan setelah ia meninggal dunia. Ironisnya, jenazah pejabat yang semasa hidupnya menerapkan kebijakan keras tersebut justru mengalami penelantaran yang menyedihkan.

Tragedi penelantaran jenazah ini menjadi cerminan nyata dari dampak kebijakan yang diterapkan selama masa VOC berkuasa. Hal ini menunjukkan bagaimana dendam sosial dapat berlanjut hingga pasca kematian seorang penguasa.

"Sejarah kolonial menyimpan beragam narasi, termasuk kisah mengenai para pejabat yang kebijakannya justru menimbulkan penderitaan bagi masyarakat setempat," ujar sebuah analisis sejarah yang membahas periode tersebut.

"Salah satu contoh menonjol adalah pengalaman pahit yang dialami oleh seorang pejabat di era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang sangat dibenci rakyatnya," tambah analisis tersebut.