BISNIS.HOTNEWS.ID - Kondisi pasar peternakan nasional tengah menghadapi tantangan serius, di mana harga jual ayam dan telur di tingkat peternak dilaporkan anjlok di bawah Harga Pokok Produksi (HPP). Situasi ini tentu menimbulkan kerugian signifikan bagi para pelaku usaha di sektor hulu agrikultur.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) angkat bicara mengenai latar belakang utama yang menyebabkan fluktuasi harga yang merugikan ini. Pihak Kementan telah mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang memicu penurunan tajam tersebut.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Agung Suganda, menjadi juru bicara resmi pemerintah dalam menjelaskan dinamika pasar terkini. Ia menekankan bahwa masalah ini berakar pada ketidakseimbangan fundamental dalam rantai pasok.
Masalah utama yang dihadapi sektor ini adalah ketidakseimbangan antara ketersediaan pasokan (supply) dan tingkat permintaan (demand) yang ada di lapangan. Ketidakselarasan antara kedua variabel ekonomi ini menjadi pemicu utama depresiasi harga.
Agung Suganda secara spesifik menguraikan bahwa penurunan harga terjadi ketika volume pasokan yang tersedia melimpah melebihi kebutuhan pasar yang sesungguhnya. Kondisi surplus ini memaksa harga jual menjadi turun drastis.
"Terkait dengan penurunan harga tentu ini terkait suplai dan demand, dan banyak juga penyebabnya, tetapi keseimbangan suplai dan demand ini yang terganggu, sehingga pada saat supply melimpah, demand-nya turun. Tentu itu harganya juga menjadi turun," ujar Agung Suganda.
Pernyataan resmi tersebut disampaikan oleh Dirjen PKH dalam sesi konferensi pers yang diadakan di kantor Kementerian Pertanian yang berlokasi di Jakarta Selatan. Momen penting ini terjadi pada hari Senin, tanggal 6 Juli 2026.
Dikutip dari berbagai sumber, penjelasan ini bertujuan memberikan transparansi kepada publik dan peternak mengenai evaluasi pemerintah terhadap kondisi pasar komoditas peternakan saat ini. Pemerintah sedang meninjau langkah intervensi yang diperlukan.
Dilansir dari berbagai sumber, kondisi harga di bawah HPP menjadi perhatian serius karena mengancam keberlanjutan usaha peternak skala kecil hingga menengah di berbagai daerah. Ada kebutuhan mendesak untuk menstabilkan harga kembali.