BISNIS.HOTNEWS.ID - Industri pengolahan nikel di Indonesia kini menghadapi dilema yang cukup pelik di tengah euforia kenaikan harga logam dasar global. Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mengungkapkan bahwa meskipun tren harga nikel di pasar internasional sedang menguat, para pelaku industri smelter justru merasakan peningkatan signifikan pada beban biaya produksi mereka.

Situasi ini menimbulkan kontradiksi menarik di sektor mineral kritis nasional. Harga nikel di bursa komoditas utama seperti London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Metals Market (SMM) memang menunjukkan tren kenaikan yang positif.

Kenaikan harga logam tersebut, menurut FINI, dipicu oleh beberapa faktor utama di pasar global dan domestik. Salah satunya adalah adanya kebijakan pemangkasan produksi nikel yang dilakukan oleh Indonesia baru-baru ini.

Selain itu, revisi terhadap formula Harga Patokan Mineral (HPM) untuk nikel di dalam negeri juga turut memberikan kontribusi terhadap dinamika harga yang terjadi saat ini. Revisi formula HPM ini secara langsung berdampak pada perhitungan biaya bahan baku.

Ketua Umum FINI, Arif Perdanakusumah, menegaskan bahwa industri smelter saat ini sedang menanggung beban yang berlapis atau berganda. Beban ini berasal dari dua sisi yang berbeda, yaitu kenaikan biaya energi yang harus ditanggung operasional pabrik.

Beban ganda tersebut diperparah oleh kenaikan harga bijih nikel yang merupakan konsekuensi dari penerapan formula HPM yang baru tersebut. Kedua komponen biaya ini menekan margin keuntungan smelter secara signifikan.

Arif Perdanakusumah menekankan pentingnya melihat isu ini secara komprehensif, bukan hanya fokus pada satu sisi saja. "Jadi kita harus melihatnya itu secara holistik, tidak hanya dari kenaikan harga komoditas yang mana itu lebih dipicu karena sentimen sesaat dan juga dipicu karena adanya kekurangan pasokan, tetapi tidak melihat isu secara keseluruhan dari sisi biaya produksi," kata Arif Perdanakusumah kepada Bloomberg Technoz.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Arif Perdanakusumah di sela-sela acara Indonesia Critical Mineral Conference yang diselenggarakan belum lama ini. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan biaya produksi menjadi isu sentral bagi keberlanjutan operasional smelter.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, FINI menyerukan agar pemangku kepentingan mempertimbangkan dampak biaya produksi secara utuh ketika menganalisis kinerja sektor hilirisasi nikel saat ini. Kondisi ini memerlukan kajian mendalam agar tren bullish harga logam bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh industri dalam negeri.