BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan terbaru menunjukkan adanya kenaikan signifikan pada harga minyak nabati di pasar global dalam kurun waktu belakangan ini. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku industri dan konsumen di seluruh dunia.

Situasi ini terungkap dalam publikasi terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Data tersebut termuat dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026 yang dirilis oleh lembaga internasional tersebut.

Menurut data yang dihimpun, indeks harga minyak nabati global tercatat mengalami lonjakan yang cukup substansial. Kenaikan tersebut mencapai angka 21,5% pada bulan Mei jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada produk minyak nabati akhir, tetapi juga menyeret harga bahan baku utamanya. Harga biji-bijian penghasil minyak dan bungkil juga mengalami peningkatan yang signifikan pada periode yang sama.

Secara spesifik, harga biji-bijian penghasil minyak tercatat melonjak sebesar 12,5%. Sementara itu, harga bungkil mengalami kenaikan yang lebih tinggi, yaitu mencapai 19,6% pada Mei 2026 dibandingkan Mei 2025.

Korelasi antara kenaikan bahan baku dan produk akhir ini memberikan gambaran mengenai tekanan biaya yang dihadapi oleh produsen. Hal ini secara otomatis berpotensi memengaruhi stabilitas harga pangan global.

"Pada Mei 2026, indeks harga FAO untuk biji-bijian penghasil minyak dan bungkil kedelai masing-masing melampaui level tahun lalu sebesar 12,7% dan 19,6%. Sementara itu, indeks minyak nabati melonjak tajam sebesar 21,5% dari posisi Mei 2025," tulis hasil temuan dalam dokumen tersebut.

Informasi mengenai kenaikan drastis ini disampaikan kepada publik setelah data tersebut diolah dan dipublikasikan. Dikutip dari sumber data, pernyataan tersebut terkonfirmasi pada Jumat, (19/6/2026).

Dilansir dari sumber resmi, kenaikan harga ini mengindikasikan adanya tantangan dalam rantai pasok komoditas pertanian global. Perlu adanya langkah antisipatif dari berbagai pihak terkait kondisi pasar ini.