BISNIS.HOTNEWS.ID - Jabatan komisaris di sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) belakangan ini menjadi sorotan publik. Hal ini muncul karena adanya anggapan bahwa beberapa individu yang menduduki posisi tersebut dinilai kurang memiliki kesesuaian kompetensi atau pengalaman yang relevan dengan inti bisnis perusahaan.
Isu mengenai kualifikasi komisaris ini kemudian mendorong Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, untuk memberikan penjelasan resmi. Penjelasan ini bertujuan meluruskan persepsi publik terkait proses penunjukan tersebut.
Lantas, apa yang menjadi landasan utama dalam pemilihan susunan dewan komisaris BUMN saat ini? Menurut Bakom RI, penentuan komisaris dengan latar belakang yang beragam merupakan sebuah strategi yang disengaja oleh pemerintah.
Muhammad Qodari mengungkapkan bahwa keberagaman latar belakang ini memiliki tujuan spesifik dalam konteks tata kelola perusahaan negara. Tujuannya adalah untuk memastikan adanya perspektif baru yang dapat mendukung serta mengawal agenda strategis pemerintah.
"Pemilihan komisaris badan usaha milik negara (BUMN) dengan latar belakang beragam ditujukan untuk membawa perspektif baru dalam upaya mengawal agenda pemerintah," ujar Muhammad Qodari.
Sebagai ilustrasi mengenai fungsi komisaris non-inti, Qodari mencontohkan pengalaman pribadinya saat pernah menjabat sebagai komisaris di salah satu BUMN. Meskipun latar belakangnya tidak secara langsung bersinggungan dengan bisnis utama perusahaan tersebut, perannya tetap dianggap vital.
Dalam konteks tersebut, peran komisaris yang memiliki keahlian berbeda menjadi sangat penting dalam memberikan pandangan alternatif. Hal ini krusial ketika perusahaan dihadapkan pada permasalahan yang kompleks dan membutuhkan solusi multidimensi.
"Meskipun dia tak memiliki pengalaman sesuai dengan inti bisnis perusahaan tersebut, dirinya sebagai komisaris tetap memiliki peran penting untuk memberikan alternatif solusi," kata Muhammad Qodari.
Dengan demikian, keberadaan komisaris dari berbagai disiplin ilmu atau pengalaman dapat memperkaya cara pandang perusahaan. Ini memungkinkan BUMN memiliki spektrum yang jauh lebih luas dalam menganalisis masalah dan merumuskan langkah penyelesaian yang inovatif.