BISNIS.HOTNEWS.ID - Akhirnya, setelah penantian panjang selama tiga setengah tahun, harga beras di Jepang menunjukkan tren penurunan yang signifikan pada bulan Mei. Momen ini menandai titik balik penting dalam stabilitas harga pangan domestik yang sempat menjadi isu utama.

Penurunan ini sangat dinantikan karena sebelumnya harga beras mengalami lonjakan tajam yang memberikan tekanan besar terhadap pemerintah dan menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat Jepang.

Kenaikan harga beras terjadi secara signifikan sepanjang tahun 2024 hingga 2025. Beberapa faktor kompleks menjadi penyebab utama melonjaknya harga komoditas pokok ini.

Gangguan pada rantai pasokan menjadi pemicu utama, termasuk dampak dari kondisi cuaca panas ekstrem yang memengaruhi hasil panen. Selain itu, terjadi peningkatan aksi panic buying yang dipicu oleh peringatan potensi gempa besar dua tahun sebelumnya.

Perkembangan positif ini dikonfirmasi oleh pihak berwenang yang memantau data inflasi nasional. Penurunan harga ini diharapkan dapat membantu menstabilkan daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Informasi mengenai penurunan harga ini didapatkan dari data resmi yang dikumpulkan oleh Kementerian Dalam Negeri Jepang. Data tersebut mencakup perbandingan harga dari berbagai jenis beras yang dikonsumsi masyarakat.

Dilansir dari CNA, seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Jepang yang bertugas mengawasi data inflasi mengungkapkan temuan kunci ini.

"Harga beras, tidak termasuk varietas premium koshihikari, pada Mei tercatat 5,4% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujar pejabat tersebut, Sabtu (20/6/2026).

Penurunan sebesar 5,4% ini secara spesifik merujuk pada harga beras non-premium, memberikan kelegaan substansial bagi konsumen Jepang yang mengandalkan jenis beras standar sehari-hari.