BISNIS.HOTNEWS.ID - Pemerintah Irak melalui operasi anti-korupsi besar-besaran yang diberi nama 'Solat al-Fajr' berhasil mengungkap praktik keuangan ilegal yang dilakukan oleh mantan pejabat tinggi negara. Penyelidikan ini menjadi sorotan karena mengungkap modus penyimpanan uang yang sangat tidak lazim dalam skala kasus korupsi.
Pihak yang menjadi fokus utama dari operasi ini adalah Adnan Al-Jumaili, mantan Wakil Menteri Perminyakan Bidang Pengolahan. Pengungkapan ini menunjukkan keseriusan Irak dalam membersihkan institusi pemerintah dari praktik korupsi yang merugikan negara.
Temuan mengejutkan datang dari hasil investigasi petugas anti-korupsi setempat, di mana mereka menemukan sebagian besar hasil korupsi disembunyikan dalam wadah sehari-hari. Secara spesifik, uang tunai disembunyikan di dalam galon air minum.
Dilansir dari Afghan Voice Agency (AVA) pada Rabu, 8 Juli 2026, operasi 'Solat al-Fajr' ini didukung oleh perubahan mendasar dalam kerangka hukum Irak. Perubahan ini bertujuan untuk mempermudah proses penangkapan dan interogasi terhadap para tersangka korupsi.
Dalam konteks penemuan barang bukti, penyidik berhasil melakukan penyitaan signifikan dari kediaman pribadi Adnan Al-Jumaili. Lokasi penyitaan tersebut berada di kota Tikrit, yang merupakan bagian dari Provinsi Salahuddin.
Secara rinci, penyitaan mencakup 11 galon air yang ternyata berisi tumpukan uang tunai dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Namun, total nominal pasti dari uang yang ditemukan di dalam galon-galon tersebut belum disebutkan secara eksplisit oleh pihak berwenang.
"Sebagian hasil korupsi kedapatan disembunyikan dalam galon air," menggarisbawahi betapa uniknya metode yang digunakan oleh mantan Wamen tersebut untuk menyamarkan aset hasil kejahatan.
Dikutip dari Afghan Voice Agency (AVA), penyelidikan terhadap mantan Wamen itu merupakan bagian dari operasi anti-korupsi besar-besaran pemerintah Irak yang dikenal sebagai 'Solat al-Fajr'. Hal ini menunjukkan upaya terstruktur pemerintah untuk memberantas tindak pidana korupsi di sektor vital.
Dikutip dari Afghan Voice Agency (AVA), dalam pelaksanaannya, Irak juga merombak dasar hukum yang diperlukan sehingga proses penangkapan dan interogasi para tersangka dapat dilakukan. Ini mengindikasikan adanya pembaruan regulasi untuk mendukung penegakan hukum yang lebih efektif.