BISNIS.HOTNEWS.ID - Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menanggapi sebuah usulan penting mengenai pendanaan sektor riset dan inovasi nasional. Usulan tersebut menghendaki agar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dapat mengalokasikan sebagian dari laba yang mereka peroleh.
Wacana ini muncul dalam konteks peningkatan kebutuhan pendanaan untuk kemajuan sains, teknologi, dan industri di Indonesia. Pemerintah tengah mencari sumber daya berkelanjutan guna mendorong inovasi domestik yang lebih kuat.
Prabowo menyatakan pandangannya mengenai ide tersebut saat menghadiri acara penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri. Acara penting ini disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada hari Minggu, 28 Juni 2026.
Secara umum, Presiden menyambut positif gagasan untuk memanfaatkan potensi finansial BUMN demi kepentingan riset. Langkah ini dipandang sebagai cara strategis untuk mengintegrasikan sektor bisnis negara dengan pengembangan ilmu pengetahuan.
Namun, alih-alih langsung menyetujui, Prabowo mengajukan sebuah pertanyaan mendasar yang menyangkut kondisi riil operasional BUMN saat ini. Pertanyaan ini berfokus pada prasyarat utama agar alokasi dana tersebut dapat terealisasi.
"Tadi juga usul sektor industri, biaya riset, diusulkan agar tiap BUMN mengalokasikan sebagian laba mereka untuk riset dan untuk riset ya, inovasi. Ini bagus usul, masalahnya BUMN ini ada labanya nggak?" ujar Prabowo dalam acara tersebut.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa implementasi usulan ini sangat bergantung pada kinerja keuangan BUMN. Jika BUMN belum mampu menghasilkan laba signifikan, maka sumber pendanaan ini menjadi sulit diakses.
Dilansir dari Sekretariat Presiden, pernyataan ini disampaikan Prabowo sebagai refleksi kritis terhadap kapasitas finansial perusahaan pelat merah sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut. Hal ini menunjukkan kehati-hatian dalam merumuskan kebijakan fiskal terkait BUMN.
Prabowo menekankan perlunya evaluasi mendalam terhadap profitabilitas BUMN sebelum menunjuk mereka sebagai sumber pendanaan riset. Evaluasi ini krusial untuk memastikan keberlanjutan dukungan terhadap inovasi tanpa mengganggu stabilitas operasional BUMN itu sendiri.