BISNIS.HOTNEWS.ID - Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyampaikan pandangannya mengenai kondisi perekonomian Indonesia. Ia secara khusus menyoroti sebuah indikator yang dinilainya krusial dalam mengukur efisiensi ekonomi nasional.
Indikator yang dimaksud adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Menurut Presiden Prabowo, angka ICOR Indonesia saat ini berada pada kisaran 6,5.
Angka ICOR yang tinggi ini, menurut Presiden Prabowo, menjadi cerminan bahwa perekonomian Indonesia belum berjalan secara efisien. Ia mengaitkan ketidakefisienan ini dengan adanya masalah kebocoran kekayaan.
"Semua pakar mengatakan, kalau bicara ekonomi Indonesia mereka mengatakan bahwa Indonesia ekonominya tidak efisien. Apa arti tidak efisien? Artinya banyak kekayaan bocor," ujar Presiden Prabowo.
Beliau menjelaskan lebih lanjut makna dari tingginya angka ICOR tersebut. "Mereka hitung bahwa angka kita, ekonomi kita ya, ICOR kita 6,5. ICOR artinya, bahasa sono-nya adalah Incremental Capital Output Ratio."
Presiden Prabowo kemudian menguraikan implikasi praktis dari rasio tersebut. "Artinya kalau kita mau tambah kaya satu dolar atau satu rupiah, untuk dapat satu rupiah kita harus keluarkan enam setengah rupiah. Untuk dapat satu dolar, kita harus keluarkan enam setengah dolar," jelasnya.
Pernyataan ini disampaikan oleh Presiden Prabowo dalam acara Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Acara tersebut disiarkan secara daring.
Kejadian ini berlangsung pada hari Kamis, tanggal 23 Juli tahun 2026. Momen ini menjadi perhatian publik terkait analisis ekonomi yang disampaikan oleh pemimpin negara.
Dikutip dari kanal daring yang menyiarkan acara tersebut, pernyataan Presiden Prabowo memberikan gambaran tentang tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber daya ekonomi nasional.