BISNIS.HOTNEWS.ID - Pada hari Senin, 7 Juli 2026, pasar keuangan domestik menyaksikan pelemahan signifikan pada mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan jual yang kuat mendorong nilai tukar mata uang Garuda ini melampaui ambang batas psikologis yang sangat penting.
Pelemahan ini mencapai titik krusial ketika kurs Rupiah terpantau bergerak menembus level Rp18.000 per Dolar AS. Peristiwa ini menandakan adanya sentimen negatif yang memengaruhi persepsi investor terhadap kinerja mata uang lokal.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv pada pukul 13.44 WIB, Rupiah tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,31%. Angka ini menunjukkan bahwa pelemahan yang terjadi cukup substansial dalam perdagangan sesi tersebut.
Posisi penutupan Rupiah di level Rp18.000 per Dolar AS menunjukkan pelemahan yang lebih dalam jika dibandingkan dengan posisi pembukaan perdagangan pada pagi hari sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya aksi jual yang berkelanjutan sepanjang hari.
Pergerakan signifikan dari bank-bank asing turut menjadi salah satu faktor yang memicu pelemahan tajam ini. Aktivitas jual yang masif dari institusi keuangan internasional memberikan tekanan tambahan pada ketersediaan Dolar AS di pasar domestik.
Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, mata uang Garuda terpantau bergerak melemah dan melampaui ambang batas psikologis penting sebesar Rp18.000 per Dolar AS. Informasi ini menggarisbawahi tingkat kekhawatiran pasar terhadap stabilitas nilai tukar saat itu.
"Pada awal pekan perdagangan hari Senin (7/7/2026), nilai tukar Rupiah kembali mengalami tekanan signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS)," demikian disampaikan oleh analisis pasar yang dikutip dari TREN.BISNISMARKET.COM.
Lebih lanjut, data Refinitiv pada siang hari menunjukkan bahwa pergerakan tersebut menegaskan tren depresiasi. "Rupiah tercatat melemah sebesar 0,31% dan berada di posisi Rp18.000 per Dolar AS," ungkap sumber data tersebut pada pukul 13.44 WIB.
Pencapaian level Rp18.000 ini selalu menjadi perhatian serius bagi otoritas moneter dan pelaku pasar karena secara historis level tersebut sering dianggap sebagai batas psikologis yang sensitif.