BISNIS.HOTNEWS.ID - Pergerakan harga emas global tercatat mengalami tekanan jual yang signifikan pada penutupan perdagangan pekan ini. Logam mulia ini tengah menuju minggu ketiga berturut-turut mengalami kerugian, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Penurunan tajam sempat dialami oleh harga emas, bahkan merosot hingga mencapai level 2,1% pada hari Jumat. Pergerakan ini terjadi setelah adanya perkembangan terbaru mengenai upaya diplomatik di Timur Tengah.
Penyebab utama pelemahan ini adalah keputusan Amerika Serikat dan Iran untuk menunda dimulainya pembicaraan mengenai kesepakatan perdamaian permanen. Penundaan tersebut terjadi setelah eskalasi ketegangan dan pertempuran yang meningkat di wilayah Lebanon selatan.
Kabar baik sempat muncul pada hari Rabu ketika sebuah kesepakatan sementara berhasil ditandatangani, yang memungkinkan kapal-kapal tanker minyak yang sebelumnya tertahan untuk kembali melintasi Selat Hormuz. Hal ini sempat meredakan kekhawatiran pasar global akan potensi kekurangan pasokan energi yang berkepanjangan.
Namun, optimisme tersebut mulai memudar pada awal hari Jumat. Disebutkan bahwa lalu lintas kapal yang melintasi jalur pelayaran vital tersebut mulai menunjukkan penurunan volume pergerakan dibandingkan hari sebelumnya.
Di tengah dinamika tersebut, pihak Teheran menegaskan kembali posisinya mengenai lalu lintas maritim di perairan mereka. Teheran menyatakan bahwa kapal-kapal yang berkeinginan melintasi Selat Hormuz harus terlebih dahulu memperoleh izin resmi dari otoritas Iran.
Perkembangan geopolitik ini menjadi salah satu faktor utama yang dicermati oleh para pelaku pasar, selain antisipasi mengenai arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat. Kedua isu ini secara simultan memberikan tekanan terhadap daya tarik emas sebagai aset aman.
Dilansir dari Bloomberg News, para pelaku pasar tengah mencermati penundaan negosiasi mengenai kesepakatan perdamaian permanen di Timur Tengah serta prospek suku bunga Amerika Serikat, yang turut memengaruhi pergerakan harga logam mulia tersebut. Penulis yang meliput perkembangan ini adalah Yihui Xie.