BISNIS.HOTNEWS.ID - Bank Indonesia (BI) baru saja melaksanakan pengetatan kebijakan moneter paling agresif dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Langkah ini ditandai dengan kenaikan signifikan suku bunga acuan, yang dikenal sebagai BI Rate, sebanyak 100 basis poin (bps) hanya dalam rentang waktu satu bulan saja.
Kenaikan suku bunga tersebut terjadi secara bertahap melalui tiga kali kenaikan beruntun selama periode Mei hingga Juni 2026. Akibat akumulasi kenaikan tersebut, BI Rate berhasil melonjak tajam dari posisi awal sebesar 4,75% hingga mencapai level 5,75%.
Keputusan moneter yang bersifat agresif ini diambil sebagai respons langsung terhadap berbagai tantangan eksternal dan domestik yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia. Tekanan utama datang dari nilai tukar rupiah yang sempat menunjukkan pelemahan signifikan di atas level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.
Selain itu, meningkatnya ketidakpastian yang bersumber dari pasar keuangan global turut mendorong Bank Sentral untuk mengambil tindakan tegas. Tindakan ini juga bertujuan memastikan bahwa laju inflasi tetap berada dalam koridor target yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Proses pengetatan kebijakan moneter ini secara resmi dimulai pada periode Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada tanggal 19 hingga 20 Mei 2026. Pada pertemuan tersebut, BI secara mengejutkan memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 50 bps, membawa suku bunga acuan dari 4,75% menjadi 5,25%.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, Bank sentral kala itu menekankan perlunya penguatan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak yang terjadi di pasar keuangan global. Kondisi ini diperparah oleh tren pelemahan mata uang domestik yang terlihat cukup nyata pada periode tersebut.
Pada saat pengambilan keputusan awal tersebut, nilai tukar rupiah sempat tertekan dan berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa intervensi kebijakan melalui kebijakan suku bunga menjadi prioritas utama.
Langkah-langkah penyesuaian suku bunga berikutnya kemudian dilanjutkan untuk memenuhi target kenaikan total 100 bps dalam periode yang sangat singkat, menegaskan komitmen BI dalam menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia.