BISNIS.HOTNEWS.ID - Sebuah insiden finansial yang sangat signifikan baru-baru ini terjadi di Medan, Sumatera Utara, di mana seorang ibu rumah tangga terperosok dalam skema penipuan daring yang dikenal sebagai love scam. Kejadian ini menyoroti meningkatnya risiko kerugian besar akibat kejahatan siber yang memanfaatkan emosi.
Korban mengalami kerugian materiil yang sangat besar, diperkirakan mencapai nominal fantastis yakni Rp120 miliar. Kerugian sebesar ini terakumulasi hanya dalam kurun waktu empat bulan terakhir sejak korban terjerat dalam tipu muslihat tersebut.
Modus penipuan yang digunakan pelaku adalah dengan membangun hubungan asmara palsu secara daring. Pelaku mengklaim dirinya sebagai sosok pria yang sangat tampan dan bahkan menyebutkan berasal dari negara maju seperti Singapura untuk menarik simpati korban.
Menanggapi maraknya kasus ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Peringatan ini berfokus pada kewaspadaan terhadap beragam modus tindak penipuan yang beroperasi di sektor jasa keuangan.
Salah satu modus yang belakangan ini teridentifikasi paling banyak memakan korban adalah penipuan yang berkedok hubungan asmara atau yang lebih dikenal sebagai love scam. Ini menunjukkan pergeseran taktik kejahatan finansial yang semakin manipulatif.
Ketua Satgas Penanganan Investasi Keuangan Ilegal dan Penipuan Sektor Jasa Keuangan (PASTI), Rizal Ramadhani, memberikan penjelasan mengenai karakteristik umum dari pelaku kejahatan ini. Ia menekankan bahwa siapa pun bisa menjadi target jebakan asmara daring tersebut.
"Baik laki-laki maupun perempuan memiliki potensi untuk menjadi korban dari penipuan jenis love scam ini," jelas Rizal Ramadhani.
Lebih lanjut, Rizal Ramadhani memaparkan taktik psikologis yang digunakan oleh para penipu untuk memikat mangsanya. Pelaku biasanya melakukan pendekatan dengan menggoda calon korban menggunakan visualisasi sosok yang sangat menarik secara fisik.
"Pelaku biasanya menggoda korban dengan 'sosok' berparas menarik, dan kebanyakan hanya hasil rekayasa AI," ujar Rizal Ramadhani. Hal ini mengindikasikan bahwa citra yang ditampilkan pelaku seringkali merupakan identitas palsu yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan.