BISNIS.HOTNEWS.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan akan menghadapi ujian penting pada perdagangan hari Senin, 8 Juni 2026. Pasar akan memantau ketat apakah level support kritis di kisaran 5.450 dapat menahan tekanan jual yang ada.
Pergerakan indeks pada hari tersebut sangat krusial untuk menentukan probabilitas terjadinya pembalikan arah teknikal (rebound). Hal ini menyusul tren pelemahan yang cukup signifikan yang terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya.
Kepala Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, CFP®, mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi pasar terkini. Ia menyoroti bahwa tekanan jual masih menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh IHSG saat ini.
Direktur PT Kabelindo Murni (KBLM) Mengundurkan Diri, Nasibnya Menanti Keputusan RUPS
"IHSG berpotensi tes support di 5450-5500, dan jika kuat di support tersebut, potensi rebound," ujar Fanny Suherman dalam riset yang dirilis hari ini.
Sebagai catatan, pada penutupan perdagangan hari Jumat, 5 Juni 2026, IHSG ditutup pada level 5.594,765. Level penutupan ini menunjukkan penurunan drastis sebesar 245,019 poin atau tergerus 4,20% dibandingkan hari sebelumnya.
Penurunan tersebut tampak kontras dengan kondisi saat pembukaan perdagangan di hari yang sama, di mana indeks sempat mencatatkan penguatan hingga menyentuh level Rp5.846,491. Penutupan tersebut juga jauh di bawah posisi penutupan hari Kamis, 4 Juni 2026, yakni di level 5.839,785.
Selama periode satu pekan sebelumnya, IHSG secara akumulatif tercatat mengalami kontraksi sebesar 4,2% akibat aksi jual yang mendominasi pasar.
Pelemahan signifikan ini diiringi oleh aksi jual bersih (net sell) yang cukup besar dari investor asing, dengan total nilai jual bersih asing mencapai sekitar Rp3,72 triliun. Dilansir dari STOCKWATCH.ID, beberapa saham unggulan menjadi target utama aksi jual oleh pemodal luar negeri tersebut.
Saham-saham besar yang menjadi sasaran utama aksi jual investor asing meliputi TPIA, BBCA, BMRI, ANTM, dan BBRI sepanjang periode tersebut.