BISNIS.HOTNEWS.ID - Industri minyak sawit mentah (CPO) Indonesia tengah menghadapi potensi ancaman serius di pasar global. Hal ini dipicu oleh pertumbuhan pesat dan ekspansi masif dari minyak nabati pesaing, terutama minyak rapeseed dan canola.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyoroti perkembangan signifikan dari komoditas pesaing tersebut. Minyak rapeseed, misalnya, menunjukkan tingkat pertumbuhan produksi yang sangat mengesankan.

Menurut Jatmiko, minyak rapeseed memiliki rekor pertumbuhan produksi yang sangat cepat, berkisar antara 5,8% hingga 10% setiap tahunnya. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan CPO Indonesia dalam periode yang sama.

Komoditas ini dikenal memiliki keunggulan "king of cold flow," menjadikannya sangat diminati di negara-negara maju, khususnya di wilayah subtropis yang mengalami musim dingin. Properti ini memberikan keunggulan kompetitif tersendiri di pasar internasional.

"Rapeseed mempunyai tingkat pertumbuhan hampir 5,8% dan dikenal sebagai king of cold flow. Sementara CPO kita di seluruh dunia selama 5 tahun hanya tumbuh 0,52%," ujar Jatmiko K. Santosa saat memberikan pemaparan di agenda Pekan Riset Sawit Indonesia 2026 di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Perbedaan laju pertumbuhan ini mengindikasikan adanya pergeseran preferensi pasar global. Pertumbuhan yang lambat pada CPO Indonesia dapat berdampak pada pangsa pasarnya di masa mendatang jika tidak diimbangi dengan strategi adaptasi yang tepat.

Di sisi lain, Jatmiko juga menyentil mengenai komitmen domestik terhadap penggunaan biofuel. Implementasi program B50, yang mewajibkan pencampuran biodiesel pada bahan bakar solar, membutuhkan pasokan CPO yang signifikan.

Pada tahap awal implementasinya, program B50 diperkirakan membutuhkan pasokan CPO domestik sekitar 4 juta ton per tahun. Ini menunjukkan pentingnya CPO untuk kebutuhan energi nasional sekaligus tantangan dalam memenuhi permintaan global yang kian kompetitif.

Dikutip dari Bloomberg Technoz, Jakarta.