BISNIS.HOTNEWS.ID - Badan Pangan Nasional (Bapanas) angkat bicara mengenai isu kelangkaan beras premium yang beredar di beberapa ritel modern. Pihak Bapanas menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak mencerminkan kelangkaan stok secara keseluruhan.

Pemerintah, melalui Bapanas, memiliki keyakinan kuat bahwa ketersediaan beras premium di pasaran masih memadai. Penekanan diberikan pada pasokan beras premium yang berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Meskipun demikian, Bapanas mengakui adanya tren kenaikan harga untuk beras premium. Namun, kenaikan ini diklaim masih berada dalam batas kewajaran dan tidak jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

Pihak Bapanas berharap agar konsumen beras premium, yang umumnya berasal dari segmen menengah ke atas, dapat memahami situasi ini. Pemahaman tersebut diharapkan dapat meredam kekhawatiran yang mungkin timbul akibat fluktuasi harga.

"Sebenarnya tidak langka. Kalau dibilang langka, tidak," tegas Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (25/7/2026).

Beliau menambahkan, "Kami juga turun bersama tim, (memang) ada beberapa ritel yang kosong tapi sebagian ritel masih ada." Hal ini menunjukkan bahwa ketiadaan produk di satu lokasi tidak berarti ketiadaan stok secara merata.

I Gusti Ketut Astawa juga menyoroti ketersediaan beras dari sumber lain. "Beras Bulog masih ada. Beras premium masih ada dengan berbagai merek, termasuk beras dari ID Food. Rania dan lain sebagainya," jelasnya.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pasokan beras premium tetap dijaga melalui berbagai saluran distribusi dan merek, termasuk yang terafiliasi dengan BUMN seperti Bulog dan ID Food. Ketersediaan beras merek Rania juga disebut sebagai salah satu contohnya.

Kenaikan harga yang terjadi diklaim masih sesuai dengan koridor Harga Eceran Tertinggi (HET). Hal ini menjadi poin penting bagi Bapanas untuk menjelaskan kepada publik, terutama konsumen beras premium.