BISNIS.HOTNEWS.ID - Perdagangan logam mulia global mengalami tekanan signifikan pada Jumat waktu setempat atau Sabtu dini hari WIB (6/7/2026), yang ditandai dengan merosotnya harga emas dunia. Penurunan drastis ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan hasil lebih kuat dari ekspektasi pasar.
Data yang kuat ini memperkuat pandangan bahwa Bank Sentral AS, The Fed, kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk periode waktu yang lebih lama. Kondisi ini secara langsung menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (bunga).
Dilansir dari CNBC International, harga emas spot tercatat mengalami kejatuhan sebesar 2,2% dan ditutup pada level USD 4.375,19 per ons troi. Secara akumulatif, sepanjang minggu ini, harga emas telah kehilangan nilainya sekitar 3,6%.
Komoditas emas berjangka AS untuk pengiriman bulan Agustus juga ikut tergerus, jatuh sebesar 2,2% dan berakhir di posisi USD 4.405,10 per ons troi. Penurunan ini menunjukkan sentimen pasar yang tengah berbalik arah terhadap prospek logam kuning tersebut.
Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan bahwa terjadi penambahan 172.000 lapangan kerja baru selama bulan Mei. Angka ini jauh melampaui proyeksi konsensus dari jajak pendapat Reuters yang hanya memprediksi penambahan 85.000 pekerja.
Sementara itu, tingkat pengangguran di Amerika Serikat dilaporkan tetap stabil pada angka 4,3%, menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih ketat. Stabilitas ini menambah argumen bagi The Fed untuk bersikap lebih hati-hati dalam menentukan kebijakan moneter ke depan.
Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, memberikan analisis mengenai dampak data tersebut terhadap kebijakan The Fed. "Mengingat kita terus menghadapi perang di Iran serta harga energi dan tekanan inflasi yang sangat besar, sangat tidak mungkin Fed dalam suasana hati apa pun untuk menurunkan suku bunga,” ujar Melek.
Melek juga menyoroti bahwa biaya peluang dalam memegang emas semakin meningkat seiring dengan imbal hasil obligasi AS yang melonjak pasca rilis data pekerjaan. Selain itu, ia menambahkan bahwa biaya penyimpanan emas saat ini menjadi cukup tinggi.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS secara otomatis meningkatkan biaya oportunitas bagi investor yang memegang emas, karena emas tidak menghasilkan bunga. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah tren kenaikan harga minyak mentah Brent yang berada dalam jalur kenaikan mingguan.