BISNIS.HOTNEWS.ID - Arab Saudi berhasil mencatat volume ekspor minyak mentah yang memecahkan rekor dari terminal-terminalnya di wilayah Laut Merah. Pencapaian ini terjadi hanya beberapa hari dan minggu sebelum kelompok Houthi di Yaman mengumumkan niatnya untuk memblokir pengiriman minyak dari negara tersebut.

Kemampuan kerajaan untuk mengalihkan aliran minyak mentah dari Teluk Persia menuju pantai baratnya, dan kemudian menyalurkannya ke pasar internasional, telah menjadi faktor krusial. Strategi ini terbukti efektif dalam menahan lonjakan harga minyak mentah, terutama selama periode konflik di Iran.

Namun, ketahanan strategi tersebut kini menghadapi ancaman serius. Pengumuman blokade dari Houthi yang berbasis di Yaman berpotensi mengganggu jalur pasokan energi vital yang dikelola oleh Arab Saudi.

Jika blokade tersebut berhasil ditegakkan oleh Houthi, dampaknya diperkirakan akan signifikan terhadap pasar energi global. Hal ini dapat memicu kenaikan lebih lanjut pada harga minyak berjangka, yang pada Rabu lalu telah diperdagangkan di angka US$92 per barel.

Menurut data pelacakan kapal tanker yang dikumpulkan oleh Bloomberg, Arab Saudi mencatatkan rekor ekspor minyak mentah sebesar 5,9 juta barel per hari. Angka ini merupakan volume yang belum pernah terjadi sebelumnya dari dua terminal utamanya di Pelabuhan Yanbu.

Pencapaian rekor volume ekspor ini terjadi dalam periode satu pekan yang berakhir pada 17 Juli. Data tersebut menyoroti kapasitas operasional Arab Saudi dalam memanfaatkan infrastruktur di Laut Merah.

"Arab Saudi mengekspor minyak mentah dalam volume yang memecahkan rekor dari terminal-terminal di Laut Merah beberapa hari dan minggu sebelum Houthi mengumumkan akan memblokir pengiriman minyak negara tersebut," demikian dikutip dari Bloomberg.

"Kemampuan kerajaan untuk mengalihkan aliran minyak dari Teluk Persia ke pantai baratnya dan kemudian ke pasar internasional menjadi kunci dalam menenangkan harga minyak mentah selama perang Iran, tetapi sekarang terancam setelah Houthi yang berbasis di Yaman mengumumkan blokade," demikian keterangan yang disampaikan oleh para penulis artikel, Julian Lee, Salma El Wardany, dan Grant Smith.

"Blokade tersebut, jika berhasil ditegakkan, dapat menambah kenaikan harga minyak berjangka, yang diperdagangkan US$92 per barel pada Rabu," tambah para penulis tersebut.