BISNIS.HOTNEWS.ID - Gelombang panas yang melanda Eropa Selatan telah memicu serangkaian kebakaran hutan besar, memaksa otoritas setempat melakukan upaya pemadaman darurat. Situasi ini sangat menantang, terutama di wilayah Prancis bagian selatan yang terdampak langsung oleh kobaran api.

Sebagai dampak langsung dari kebakaran tersebut, lebih dari 2.000 petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk mengendalikan api yang telah mengancam permukiman warga dan area perkemahan. Upaya masif ini dilakukan untuk melindungi nyawa dan properti masyarakat setempat.

Secara spesifik, kebakaran besar dilaporkan terjadi di beberapa departemen utama di wilayah Mediterania, termasuk Hérault, Aude, dan Bouches-du-Rhône. Kebakaran di salah satu area tersebut bahkan telah menghanguskan bentangan lahan seluas lebih dari 12 kilometer persegi.

Pada Jumat kemarin, upaya pemadaman ditingkatkan dengan pengerahan aset udara untuk membantu tim darat. Helikopter dan pesawat pemadam dikerahkan untuk menjatuhkan air serta bahan penghambat api (fire retardant) di wilayah Aramon.

Aksi pemadaman udara tersebut dikonfirmasi melalui unggahan resmi dari Dinas Pemadam Kebakaran Departemen Gard di platform X. Hal ini menunjukkan skala ancaman yang dihadapi petugas di lapangan.

Juru Bicara Badan Keamanan Sipil Prancis, Kolonel Alexandre Jouassard, memberikan keterangan mengenai perkembangan situasi di lapangan. Beliau menyampaikan bahwa tim pemadam berhasil membuat kemajuan signifikan dalam mengendalikan api semalam, meskipun kondisinya masih sulit.

Kolonel Jouassard juga memberikan rincian mengenai perkembangan tersebut, "Tim pemadam berhasil membuat kemajuan semalam dalam mengendalikan salah satu kebakaran terbesar yang telah menghanguskan lebih dari 12 kilometer persegi di wilayah Mediterania, yakni departemen Hérault, Aude, dan Bouches-du-Rhône," ujar Kolonel Alexandre Jouassard kepada BFMTV.

Kondisi kering ekstrem menjadi faktor utama mengapa api menyebar dengan sangat cepat dan sulit dipadamkan. Menurut data Météo-France, curah hujan di bulan Juni hanya mencapai sekitar setengah dari rata-rata normal.

Kekeringan parah ini diperparah oleh dampak dua gelombang panas yang terjadi secara berturut-turut, ditambah dengan suhu bulan Juni yang tercatat memecahkan rekor. Kondisi tanah dan vegetasi yang sangat kering ini menciptakan lingkungan yang sangat rentan terhadap kebakaran yang bergerak cepat.