BISNIS.HOTNEWS.ID - Perdagangan di bursa saham Asia diperkirakan akan dibuka dalam zona negatif pada hari Rabu (8/7/2026), menyusul aksi jual global yang dipicu oleh perkembangan geopolitik terbaru. Indikasi pelemahan ini terlihat jelas dari pergerakan kontrak berjangka (futures) di bursa-bursa utama kawasan tersebut.
Faktor utama yang menekan sentimen investor adalah konfirmasi dari militer Amerika Serikat mengenai peluncuran gelombang serangan baru yang diarahkan ke wilayah Iran. Langkah militer ini merupakan respons langsung terhadap insiden gangguan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz baru-baru ini.
Akibat ketegangan ini, harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan signifikan, dengan jenis West Texas Intermediate (WTI) berhasil melampaui level psikologis US$72 per barel. Kenaikan ini melanjutkan momentum apresiasi harga yang sudah terjadi sejak perdagangan Selasa malam.
Selain serangan militer, AS juga mempertegas responsnya dengan mencabut fasilitas pembebasan sanksi ekspor minyak mentah yang sebelumnya diberikan kepada Iran. Keputusan ini menambah tekanan pada rantai pasok energi global.
Di pasar ekuitas Amerika Serikat, pelemahan sudah terjadi semalam, di mana indeks acuan Wall Street mengalami kerontokan. Kontrak S&P 500 sempat turun 0,4% pada perdagangan Selasa, sementara indeks Nasdaq 100 mengalami penurunan lebih dalam hingga mencapai 1,8%.
"Indeks sektor semikonduktor anjlok lebih dari 4% semalam," sebagaimana disampaikan oleh Stephen Kirkland dari Bloomberg News. Hal ini menunjukkan bahwa aksi jual yang terjadi tidak hanya bersifat geopolitik, tetapi juga dipicu oleh koreksi tajam pada sektor teknologi.
Pasar obligasi pemerintah AS juga menunjukkan volatilitas, dengan surat utang Treasury melanjutkan koreksi harga. Imbal hasil (yield) untuk surat utang tenor 10 tahun dilaporkan naik ke level tertinggi yang tercatat dalam hampir sebulan terakhir.
Sementara itu, mata uang dolar Amerika Serikat menunjukkan penguatan signifikan di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Penguatan dolar ini sering terjadi saat investor mencari aset yang dianggap lebih aman (safe haven) di tengah gejolak pasar.
Di tengah situasi pasar yang bergejolak ini, muncul sinyal peringatan mengenai potensi fenomena gelembung aset (bubble) yang kian menguat. Sektor yang paling disorot adalah pasar yang terafiliasi dengan tren kecerdasan buatan (AI), terutama setelah mayoritas perusahaan semikonduktor mencatatkan imbal hasil yang sangat masif sebelumnya.