BISNIS.HOTNEWS.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran pada Jumat. Tindakan militer ini secara langsung berdampak pada gejolak pasar energi global, khususnya harga minyak mentah yang terpantau melonjak tajam.

Serangan baru ini, menurut Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/Centcom), dimulai pada pukul 15.00 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (ET) pada Jumat. Tujuan utama dari operasi militer ini adalah untuk "melemahkan kemampuan militer Iran," demikian pernyataan resmi yang disampaikan.

Pihak Centcom tidak merinci lebih lanjut mengenai jenis dan skala serangan yang dilancarkan. Namun, eskalasi ini menandai kelanjutan dari aksi saling serang yang telah berlangsung selama sepekan terakhir antara kedua negara.

Selama sepekan terakhir, sasaran serangan telah meluas secara signifikan. Awalnya hanya menyasar fasilitas militer, kini mencakup infrastruktur vital seperti jembatan, fasilitas utilitas, hingga pelabuhan.

Sebelumnya, Centcom mengonfirmasi telah berhasil menghancurkan sebuah menara pengawas yang berlokasi di Pelabuhan Chabahar, Iran, pada hari Kamis. Fasilitas ini dinilai memiliki peran strategis dalam jaringan pengawasan maritim.

"Menara tersebut merupakan bagian dari jaringan pos pengawasan maritim di sepanjang Teluk Oman yang digunakan Teheran untuk melacak dan menargetkan kapal-kapal komersial," demikian penjelasan dari Centcom mengutip sumber asli berita.

Lebih lanjut, Centcom menyatakan bahwa gelombang serangan terhadap Iran ini telah berlangsung selama tujuh malam berturut-turut. "CENTCOM launched a round of strikes against Iran at 3 p.m. ET today for the seventh consecutive night. The strikes are designed to continue degrading Iranian military capabilities at the Commander in Chief's direction," demikian pernyataan tersebut.

Peningkatan intensitas serangan ini secara signifikan mengurangi harapan untuk segera tercapainya gencatan senjata. Perjanjian damai yang rapuh, yang sebelumnya sempat ditandatangani bulan lalu, kini terancam semakin sulit untuk dipertahankan di tengah memanasnya situasi.

Dampak langsung dari eskalasi ketegangan ini terasa di pasar keuangan global. Kenaikan tajam harga minyak mentah mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi dari salah satu produsen minyak utama dunia.