- BISNIS.HOTNEWS.ID -
Ketegangan geopolitik yang meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sepanjang akhir pekan memicu reaksi signifikan di pasar keuangan global. Aksi saling serang yang makin intens ini memberikan tekanan tambahan pada bursa saham Asia yang sebelumnya sudah menghadapi gelombang aksi jual di sektor teknologi.
Harga minyak jenis Brent terpantau melonjak hingga 3,8 persen, menembus angka US$91 per barel. Angka ini merupakan level tertinggi yang dicapai sejak Juni lalu, menandakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi akibat eskalasi konflik yang meluas di luar target militer konvensional.
Di tengah gejolak ini, mata uang dolar Amerika Serikat menunjukkan penguatan terhadap sebagian besar mata uang utama dunia. Sementara itu, kontrak berjangka obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun mengalami penurunan signifikan sebesar tujuh basis poin.
Perdagangan pasar tunai di kawasan Asia pada hari Senin, 20 Juli, ditutup karena adanya libur nasional di Jepang. Situasi ini menambah ketidakpastian dalam pergerakan aset di kawasan tersebut.
Bursa saham Asia secara umum mengalami pelemahan. Salah satu indikator yang terlihat adalah Indeks Kospi Korea Selatan yang tercatat anjlok lebih dari 1 persen, mencerminkan sentimen negatif yang merata di bursa-bursa kawasan.
Sebaliknya, kontrak berjangka Nasdaq 100 menunjukkan sedikit kenaikan sebesar 0,6 persen. Pergerakan ini terjadi setelah sempat mengalami tekanan hebat pada perdagangan hari Jumat pekan sebelumnya, mengindikasikan adanya pergerakan teknis yang berbeda di pasar saham AS.
Menariknya, startup kecerdasan buatan (AI) Moonshot AI, yang model terbarunya sempat memicu aksi jual saham teknologi global karena dianggap mengusik dominasi AS di sektor AI, menyampaikan rencana untuk melantai di bursa (IPO) dalam enam bulan ke depan.
"Rencana IPO Moonshot AI ini muncul di tengah kekhawatiran pasar yang memang sedang rapuh akibat eskalasi konflik di Timur Tengah," demikian Anand Krishnamoorthy dari Bloomberg News melaporkan.