BISNIS.HOTNEWS.ID - Nilai tukar rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) terpantau stagnan pada pembukaan perdagangan, berada di kisaran Rp18.102 per dolar Amerika Serikat. Pergerakan ini menandai awal yang stabil sebelum gejolak pasar terjadi.

Memasuki pukul 06:50 WIB, rupiah mengalami pelemahan tipis sebesar 0,12%, menyentuh angka Rp18.124 per dolar AS. Namun, tren pelemahan ini tidak bertahan lama.

Hanya berselang sekitar satu jam kemudian, pada pukul 07:29 WIB, rupiah berhasil berbalik menguat. Penguatan terbatas sebesar 0,01% membawanya ke level Rp18.100 per dolar AS.

Volatilitas yang dialami rupiah di pasar luar negeri ini dipicu oleh sentimen kenaikan harga minyak mentah. Lonjakan harga minyak dipicu oleh serangan baru yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran.

Langkah agresif Amerika Serikat ini menimbulkan kekhawatiran global mengenai potensi gangguan pasokan energi. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, menjadi sorotan utama.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan melonjak hingga 11%, diperdagangkan di atas level 80 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent juga mengalami kenaikan 0,57%, mencapai 85,21 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak ini merupakan imbas langsung dari upaya Amerika Serikat untuk mengamankan jalur pelayaran krusial di Selat Hormuz. Kondisi ini secara langsung memengaruhi pasar komoditas global.

Di sisi lain pasar obligasi, US Treasury justru menunjukkan penguatan. Hal ini didorong oleh data inflasi produsen Amerika Serikat untuk bulan Juni yang tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar.

Perlambatan inflasi ini membuat pelaku pasar mulai mengurangi proyeksi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) tahun ini. Peluang kenaikan suku bunga kini dinilai lebih kecil.