BISNIS.HOTNEWS.ID - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji pengembangan bahan bakar nabati jenis biodiesel B60 yang merupakan campuran 60% bahan bakar nabati (BBN) dalam solar. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk terus meningkatkan bauran energi terbarukan dalam sektor transportasi.

Pengembangan biodiesel B60 ini masih memerlukan penelitian yang mendalam dari berbagai aspek. Fokus utama adalah pada aspek teknis yang berkaitan dengan performa mesin dan aspek keekonomian yang akan mempengaruhi harga jualnya di pasaran.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, secara terbuka meminta partisipasi dari para periset. Beliau mengajak akademisi dari berbagai universitas dan juga lembaga penelitian lainnya untuk berkontribusi dalam kajian ini.

"Kami meminta para periset dari universitas dan lembaga lainnya untuk melakukan penelitian aspek teknis dan keekonomian dari B60," ujar Eniya Listiani Dewi.

Secara teori, komposisi B60 dapat dicapai melalui pencampuran dua jenis bahan baku utama. Bahan baku tersebut adalah 50% fatty acid methyl ester (FAME) yang berasal dari minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

Selanjutnya, dicampurkan dengan 10% minyak nabati terhidrogenasi atau yang dikenal sebagai hydrotreated vegetable oil (HVO). Komposisi ini dinilai mampu memenuhi standar campuran B60 yang diinginkan.

Namun demikian, Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa pencampuran kedua jenis bahan baku tersebut untuk menghasilkan biodiesel B60 belum memiliki kajian akademis yang memadai. Hal ini menjadi salah satu alasan utama perlunya penelitian lebih lanjut.

"Di atas kertas, B60 dapat dihasilkan dari campuran 50% fatty acid methyl ester (FAME) berbasis minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan 10% minyak nabati terhidrogenasi atau hydrotreated vegetable oil (HVO)," jelasnya.

Tantangan lain yang diungkapkan adalah terkait harga dari salah satu komponen bahan baku. Hydrotreated vegetable oil (HVO) diketahui memiliki banderol harga yang cukup tinggi di pasar komoditas.