BISNIS.HOTNEWS.ID - Gubernur Federal Reserve Bank of Dallas, Lorie Logan, baru-baru ini menyampaikan pandangannya yang mendesak perlunya penyesuaian kebijakan moneter Amerika Serikat. Ia menilai bahwa laju inflasi yang terjadi saat ini belum menunjukkan tren penurunan yang berkelanjutan.
Kekhawatiran Logan ini berakar pada target inflasi 2% yang telah ditetapkan oleh bank sentral Amerika Serikat. Hingga saat ini, data yang ada belum meyakinkan bahwa inflasi akan segera bergerak menuju angka tersebut secara mandiri.
Dalam sebuah pidato yang disiapkan untuk acara di Houston pada hari Kamis waktu setempat, Logan menekankan pentingnya keseimbangan antara prospek ekonomi dan risiko yang ada. Ia berpendapat bahwa suku bunga acuan yang sedikit lebih tinggi dapat membantu mencapai keseimbangan tersebut dengan lebih baik.
"Saat ini saya meyakini bahwa suku bunga acuan yang sedikit lebih tinggi akan mampu menyeimbangkan prospek dan risiko dengan lebih baik," ujar Logan, merujuk pada mandat ganda Federal Reserve untuk menjaga stabilitas harga sekaligus menciptakan lapangan kerja penuh.
Logan lebih lanjut menjelaskan bahwa jika inflasi tidak kunjung turun ke level target secara alami, maka diperlukan intervensi kebijakan moneter yang lebih tegas. Tindakan ini diharapkan dapat memberikan dorongan yang diperlukan untuk mencapai tujuan stabilitas harga.
"Jika inflasi tidak dapat turun ke level 2% dengan sendirinya, maka setidaknya diperlukan beberapa pembatasan kebijakan kebijakan moneter untuk membantu mencapainya," tambah Logan.
Pernyataan Logan ini semakin memperkuat kekhawatiran yang telah disuarakan oleh sejumlah pejabat Federal Reserve lainnya. Mereka mulai menyuarakan keprihatinan mendalam atas tingkat inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat.
Para pejabat tersebut juga secara implisit memperingatkan bahwa bank sentral mungkin perlu mengambil langkah lebih lanjut dalam waktu dekat. Keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan kembali menjadi opsi yang semakin dipertimbangkan.
Perlu dicatat, pembaruan proyeksi ekonomi yang dirilis pada bulan Juni lalu memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai dinamika ini. Setengah dari 18 pembuat kebijakan di The Fed memproyeksikan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun ini.