BISNIS.HOTNEWS.ID - Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia menghadapi tantangan dalam mendapatkan suntikan kredit baru. Perlambatan pertumbuhan kredit UMKM ini menjadi sorotan para ekonom yang menganalisis akar permasalahannya.

Penyebab utama lesunya kredit UMKM ini dinilai bukan berasal dari sisi ketersediaan dana di perbankan. Kondisi sektor riil yang melemah menjadi faktor dominan yang menekan kinerja para pelaku usaha di segmen ini.

Perubahan perilaku konsumen, seperti melemahnya daya beli masyarakat dan pergeseran pola belanja, secara langsung berdampak pada omzet dan kemampuan UMKM untuk melakukan ekspansi bisnis. Hal ini turut mempengaruhi permintaan kredit dari sektor tersebut.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyoroti tren perlambatan pertumbuhan kredit UMKM yang sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Ia menegaskan bahwa kondisi ini terjadi di tengah likuiditas perbankan yang justru masih terjaga.

"Kalau kita bicara berdasarkan segmen bisnisnya memang kredit UMKM menunjukkan tren perlambatan. Sementara kondisi likuiditas perbankan sampai dengan saat ini masih dalam kondisi yang ample ataupun masih terjaga," ujar Josua Pardede dalam sebuah agenda asesmen Bank Indonesia yang membahas dorongan pembiayaan, pada Jumat (24/7/2026).

Josua Pardede mengamati adanya perbedaan signifikan dalam penyaluran kredit perbankan. Kredit yang disalurkan kepada sektor korporasi masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik.

Namun, sebaliknya, kredit yang ditujukan untuk UMKM justru mengalami perlambatan yang cukup kentara. Perbedaan ini mengindikasikan adanya tantangan spesifik yang dihadapi oleh UMKM.

Berdasarkan data sementara dari Bank Indonesia (BI) per Juni 2026, pertumbuhan kredit UMKM tercatat hanya sebesar 1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan peningkatan tipis dari bulan sebelumnya yang berada di 0,6% yoy.

Meskipun ada sedikit peningkatan, laju pertumbuhan kredit UMKM tersebut masih sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit secara umum yang mencapai 12,6%. Perbedaan yang lebar ini semakin menggarisbawahi isu yang dihadapi sektor UMKM.