BISNIS.HOTNEWS.ID - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan semakin memanas sepanjang akhir pekan, memicu lonjakan harga minyak mentah global. Eskalasi ini mencakup insiden di Selat Hormuz hingga serangan terhadap fasilitas energi vital.
Harga minyak mentah acuan global, Brent, melonjak tajam hingga menembus level US$91 per barel. Angka ini merupakan rekor tertinggi yang dicapai sejak pertengahan bulan Juni lalu.
Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan, mendekati angka US$85 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi.
Pihak Teheran secara resmi menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran telah dinyatakan runtuh. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya gangguan yang lebih serius pada jalur pasokan energi dunia.
"Kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran secara efektif telah runtuh," demikian pernyataan resmi dari pihak Teheran.
Selat Hormuz, jalur pelayaran yang krusial bagi perdagangan energi global, menjadi lokasi insiden antara Angkatan Laut Iran dan beberapa kapal. Angkatan Laut Iran mengumumkan pada hari Minggu (19/7) telah menghentikan empat kapal yang diduga menggunakan "jalur tidak aman".
"Dua kapal di antaranya 'mengalami insiden dan langsung dihentikan di tempat,' sementara dua kapal sisanya 'memilih balik arah dan membatalkan pelayaran'," demikian pernyataan resmi Angkatan Laut Iran.
Aksi saling serang selama sepekan terakhir dilaporkan meluas, tidak hanya menargetkan kawasan militer. Infrastruktur sipil seperti jembatan, fasilitas umum, dan area pelabuhan juga terdampak.
Situasi ini semakin memperkecil peluang untuk kembali ke kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya rapuh. Kerusakan signifikan dilaporkan terjadi pada salah satu fasilitas minyak negara Kuwait.