BISNIS.HOTNEWS.ID - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyampaikan peringatan penting mengenai potensi Indonesia terperosok dalam jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap. Hal ini akan terjadi jika laju pertumbuhan ekonomi nasional tidak berhasil dipertahankan pada rentang 5 hingga 6 persen.
Ancaman ini perlu diwaspadai secara serius hingga batas waktu tahun 2028 mendatang. Jika proyeksi pertumbuhan tersebut gagal dicapai, risiko jebakan tersebut dinilai sangat besar menghampiri Indonesia.
Menurut pandangan Luhut, kerentanan ini memiliki kaitan erat dengan periode berakhirnya bonus demografi yang saat ini dinikmati oleh Indonesia. Bonus demografi merupakan jendela kesempatan emas bagi pembangunan negara.
Luhut memproyeksikan bahwa momen bonus demografi yang menguntungkan Indonesia akan segera mencapai titik akhir dalam dua dekade ke depan. Secara spesifik, ia memperkirakan bahwa masa emas ini akan habis pada tahun 2042.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Luhut saat menghadiri acara di Kantor DEN yang berlokasi di Jakarta Pusat pada hari Kamis, 25 Juni 2026. Momen ini digunakan untuk menggarisbawahi urgensi stabilitas ekonomi.
"Tapi kalau kita tidak tumbuh 5-6% sampai tahun 2028, itu saya bilang tadi, middle income trap kita masuk," ujar Luhut.
Beliau melanjutkan penjelasannya mengenai alasan utama di balik peringatan tersebut, menekankan pada batas waktu demografi. "Karena apa? Bonus demografi akan habis 2042," kata beliau.
Luhut juga menekankan bahwa masa emas demografi ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya melalui persatuan dan kerja sama. "Jadi, masa emas kita yang kita sebut-sebut itu sebenarnya berbahaya kalau kita semua tidak kompak," kata Luhut.
Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antar semua pihak untuk mencari solusi atas tantangan yang dihadapi bangsa. "Jadi, menurut saya kita harus satu, kalau ada masalah kita cari jalan keluarnya, tidak nanti bertengkar soal masalahnya saja," kata Luhut di Kantor DEN, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2026).