BISNIS.HOTNEWS.ID - Kepercayaan yang kuat dari para investor asing terhadap prospek iklim investasi di Indonesia kembali ditegaskan oleh pemerintah. Indikator utama dari kepercayaan ini terlihat jelas dari tingginya minat penanaman modal yang terus mengalir masuk ke Tanah Air.
Menurut data terkini, minat investasi tersebut sangat menonjol pada tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang berfokus pada sektor manufaktur. Tingginya minat ini menunjukkan bahwa optimisme pasar global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menjadi narasumber utama dalam menyampaikan perkembangan positif ini. Beliau menyoroti bagaimana antusiasme para pemodal asing tersebut mendorong adanya peningkatan kebutuhan ruang usaha.
KAI Beri Diskon 30 Persen Tiket Ekonomi Selama Libur Sekolah, 755 Ribu Kursi Tersedia
Tiga KEK manufaktur terbesar yang dimaksud adalah KEK Gresik, KEK Kendal, serta KEK Galang Batang yang berlokasi di Bintan. Ketiga kawasan strategis ini dilaporkan sama-sama mengajukan permohonan resmi untuk perluasan wilayah operasional mereka.
Keputusan untuk mengajukan perluasan kawasan ini diambil sebagai respons langsung terhadap banyaknya investor asing yang saat ini masih mengantre. Hal ini menandakan bahwa kapasitas investasi yang tersedia di lokasi tersebut sudah mulai mendekati batas maksimal.
Susiwijono Moegiarso menjelaskan situasi ini secara rinci dari Kantor Kemenko Perekonomian di Jakarta Pusat pada hari Jumat, 19 Juni 2026. Ia menegaskan bahwa permintaan ekspansi ini adalah bukti nyata daya tarik investasi Indonesia.
"Dari sekian banyak KEK itu, Kawasan Ekonomi Khusus, itu tiga KEK manufaktur terbesar, itu mulai Gresik, kemudian Kendal, dan Galang Batang di Bintan, itu tiga-tiganya itu mengajukan perluasan lahan," kata Susiwijono di Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (19/6/2026).
Tindakan perluasan lahan yang diajukan oleh KEK Gresik, Kendal, dan Galang Batang ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk mengakomodasi potensi investasi yang diperkirakan bernilai hingga Rp 557 triliun. Ini menunjukkan kesiapan infrastruktur menyambut gelombang modal baru.
Dilansir dari sumber informasi resmi, langkah proaktif ini diharapkan dapat memastikan bahwa tidak ada potensi investasi besar yang terhambat akibat keterbatasan lahan. Pemerintah terus berupaya memfasilitasi setiap kebutuhan ekspansi yang diajukan oleh pengelola KEK.