BISNIS.HOTNEWS.ID - Sebuah kabar mengejutkan datang dari sektor industri manufaktur di Bandung, Jawa Barat, di mana ribuan pekerja harus menghadapi ketidakpastian pekerjaan. Kejadian ini menimpa pekerja di salah satu pabrik yang menjadi pemasok utama bagi merek sepatu global ternama, Nike.

Menurut data yang diungkapkan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), total pekerja yang terdampak kebijakan ini mencapai angka kurang lebih empat ribu orang. Hal ini terjadi sebagai respons langsung terhadap adanya hambatan serius dalam rantai pasok bahan baku internasional.

Peristiwa dirumahkannya para pekerja ini diketahui telah mulai berlaku sejak tanggal 15 Juni 2026. Dari total sekitar 14.000 karyawan yang terdaftar di perusahaan pemasok tersebut, hampir sepertiganya harus menghentikan sementara aktivitas kerjanya.

Presiden KSPN, Ristadi, menjadi pihak yang pertama kali mengumumkan informasi krusial ini kepada publik. Beliau mendapatkan kepastian data tersebut langsung dari struktur kepengurusan KSPN yang berada di internal pabrik yang bersangkutan.

Ristadi menjelaskan mengenai akar permasalahan yang menyebabkan puluhan ribu pekerja harus dirumahkan secara sementara. Masalah utama terletak pada keterlambatan signifikan dalam pengiriman suplai bahan baku yang krusial untuk produksi sepatu.

"Keterlambatan suplai bahan baku ini informasinya disebabkan karena sebelumnya disuplai bahan baku langsung oleh pihak Nike, tapi kemudian diserahkan ke vendor pihak ketiga, jadi mungkin ada hambatan teknis," kata Ristadi dalam keterangan kepada detikcom, Kamis (18/6/2026).

Selain itu, hambatan teknis yang timbul akibat perubahan mekanisme distribusi bahan baku ini diperkirakan akan berdampak cukup panjang. Perubahan dari suplai langsung oleh Nike ke vendor pihak ketiga diduga menjadi titik lemah sementara dalam sistem logistik mereka.

Pihak serikat pekerja juga telah mendapatkan estimasi mengenai kapan pasokan bahan baku tersebut akan kembali normal dan produksi dapat dilanjutkan seperti sedia kala. Estimasi ini memberikan sedikit gambaran mengenai durasi ketidakpastian bagi para buruh.

"Diperkirakan bahan baku baru tersedia bulan Juli," ujar Ristadi dalam keterangan kepada detikcom, Kamis (18/6/2026).