BISNIS.HOTNEWS.ID - Serangkaian pemadaman listrik dilaporkan terjadi di berbagai wilayah di Pulau Jawa sepanjang medio pekan ini, memicu keresahan di tengah masyarakat. Gangguan pasokan energi ini mulai terdeteksi melalui keluhan yang disampaikan oleh sejumlah warganet melalui platform media sosial X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter).

Peristiwa pemadaman yang signifikan ini terpusat pada hari Rabu, 10 Juni 2026, dan berlanjut hingga hari Kamis, 11 Juni 2026. Wilayah yang terdampak mencakup area luas, mulai dari Jawa Barat hingga menyentuh sebagian wilayah Jawa Tengah.

Menanggapi gejolak isu ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera menyatakan bahwa mereka sedang mengambil langkah responsif. Pihak kementerian disebut sedang gencar menjalin koordinasi intensif dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sebagai operator utama sistem kelistrikan nasional.

Tujuannya dari koordinasi ini, seperti yang disampaikan pemerintah, adalah memastikan bahwa setiap gangguan yang terjadi dapat segera ditangani dan diatasi secara tuntas. Langkah cepat ini diambil untuk memulihkan stabilitas pasokan listrik bagi konsumen.

Saat dimintai keterangan lebih lanjut mengenai akar permasalahan, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, memilih untuk bersikap hati-hati. Ia belum dapat mengonfirmasi secara pasti apakah pemadaman bergilir ini disebabkan oleh gangguan teknis spesifik pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa 1.

Tri Winarno menegaskan fokus utama pemerintah saat ini adalah respons cepat terhadap krisis yang terjadi di lapangan. "Kami terus melakukan koordinasi untuk memastikan agar gangguan segera teratasi," kata Tri Winarno.

Di sisi lain, analisis mendalam datang dari lembaga kajian energi independen, Institute for Essential Service Reform (IESR). Mereka menawarkan perspektif yang berbeda mengenai kemungkinan penyebab pemadaman yang melanda sistem kelistrikan Jawa–Bali.

IESR menduga bahwa krisis pasokan ini berkaitan erat dengan kondisi cadangan bahan bakar yang menipis di beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menjadi tulang punggung sistem. Kondisi ini memaksa PLTU beroperasi di bawah kapasitas normal mereka.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, situasi ini menunjukkan adanya potensi kerentanan dalam manajemen rantai pasok energi primer yang menopang kebutuhan listrik di pulau terpadat di Indonesia.