BISNIS.HOTNEWS.ID - Perkembangan signifikan dalam hubungan diplomatik antara Mongolia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terjadi pada pertengahan Juni ini. Pertemuan tingkat tinggi telah mempertegas posisi Ulaanbaatar mengenai isu-isu kedaulatan yang sensitif bagi Beijing.
Pertemuan kunci tersebut dilaksanakan di ibu kota Mongolia, Ulaanbaatar, pada tanggal 13 Juni. Dalam agenda tersebut, Presiden Mongolia Khurelsukh Ukhnaa menerima kunjungan resmi dari Menteri Luar Negeri China, Wang Yi.
Apa yang menjadi fokus utama pertemuan ini adalah penegasan kembali prinsip fundamental dalam hubungan kedua negara. Secara spesifik, Mongolia menyatakan komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap kebijakan ‘Satu China’ yang dianut oleh pemerintah RRT.
Pernyataan mengenai posisi resmi Mongolia ini dikonfirmasi melalui keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri China. Informasi ini menjadi penanda penting stabilitas politik kawasan tersebut.
Siapa yang menyampaikan penegasan ini? Presiden Mongolia, Khurelsukh Ukhnaa, secara pribadi menyampaikan pandangan negaranya mengenai isu Taiwan. Keputusan ini menunjukkan keselarasan politik dengan kepentingan strategis Beijing.
Presiden Khurelsukh secara eksplisit menyatakan bahwa Mongolia tidak akan memberikan dukungan terhadap segala bentuk upaya yang mengarah pada kemerdekaan Taiwan. Hal ini menegaskan posisi Mongolia yang menganggap Taiwan sebagai bagian integral dari wilayah kedaulatan China.
"Mongolia menganggap Taiwan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari wilayah China dan tidak mendukung bentuk 'kemerdekaan Taiwan' apa pun," demikian pernyataan yang dikemukakan oleh Presiden Khurelsukh Ukhnaa, menurut Kementerian Luar Negeri China.
Selain isu Taiwan, pembahasan juga mencakup isu-isu domestik China lainnya yang sering menjadi sorotan internasional. Mongolia menegaskan sikap non-intervensinya terhadap urusan internal Tiongkok.
"Dia menambahkan bahwa isu-isu terkait Hong Kong, Tibet, dan Xinjiang adalah urusan internal China, kata kementerian tersebut," merujuk pada pernyataan yang disampaikan oleh pemimpin Mongolia tersebut.