BISNIS.HOTNEWS.ID - Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, dikabarkan akan segera mengambil langkah untuk menyetujui peningkatan target produksi minyak mentah dunia. Keputusan ini menjadi penyesuaian kebijakan produksi keempat yang dilakukan oleh aliansi kelompok tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Keputusan strategis ini tetap akan dilanjutkan meskipun dinamika geopolitik global sedang memanas. Secara spesifik, kebijakan peningkatan produksi ini akan tetap berjalan meskipun ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi penghalang signifikan bagi beberapa negara anggota OPEC+.
Menurut informasi yang diperoleh dari tiga sumber internal OPEC+, situasi politik internasional ini berdampak langsung pada kemampuan beberapa produsen minyak utama dalam memenuhi kuota produksi yang telah ditetapkan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas pasar energi global.
Kondisi ini merujuk pada eskalasi konflik antara AS dan Iran yang telah menyebabkan gangguan serius pada jalur pelayaran energi vital. Gangguan tersebut terpusat pada jalur Selat Hormuz yang merupakan koridor utama untuk transportasi minyak dunia.
Dikutip dari Reuters, Minggu (7/6/2026), krisis pasokan yang tercipta akibat gejolak di Selat Hormuz ini merupakan salah satu krisis pasokan terbesar yang pernah dihadapi pasar global. Situasi ini telah berlangsung sejak akhir bulan Februari lalu.
"Kebijakan ini akan berjalan meskipun perang AS dengan Iran masih mencegah beberapa anggota kelompok tersebut untuk memompa lebih banyak minyak," ujar salah satu sumber OPEC+, yang dikutip dari Reuters. Pernyataan ini menggarisbawahi dilema yang dihadapi kelompok tersebut.
Krisis di Selat Hormuz menyebabkan negara-negara anggota kunci dalam aliansi OPEC+, termasuk Arab Saudi, kesulitan untuk memasok kebutuhan pelanggan mereka secara penuh. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keamanan energi di berbagai belahan dunia.
"Perang AS-Iran telah memangkas aliran minyak melalui Selat Hormuz, menciptakan krisis pasokan terbesar di dunia karena anggota utama OPEC+ termasuk Arab Saudi tidak dapat memasok pelanggan sepenuhnya sejak akhir Februari," kata narasumber lain, dikutip dari Reuters.
Keputusan untuk menambah produksi ini menunjukkan upaya OPEC+ untuk menyeimbangkan kebutuhan pasar global akan pasokan yang stabil, di tengah ancaman ketidakpastian akibat perselisihan antarnegara besar. Tindakan ini diharapkan dapat meredakan tekanan harga yang muncul akibat hambatan logistik.