BISNIS.HOTNEWS.ID - Pemerintah melalui Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, memberikan penjelasan resmi mengenai penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax di wilayah Jakarta. Langkah ini diambil seiring dengan perkembangan kondisi pasar energi global yang terus bergerak dinamis.
Keputusan ini menyangkut kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter, sebuah penyesuaian yang diklaim berkaitan erat dengan pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional. Hal ini menjadi sorotan publik mengingat dampaknya terhadap biaya operasional dan mobilitas masyarakat.
Faktor utama yang mendasari penyesuaian harga BBM nonsubsidi adalah keharusan untuk mengikuti tren harga minyak dunia yang mengalami fluktuasi signifikan. Perubahan harga minyak mentah ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah belakangan ini.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi memang harus menyesuaikan dengan harga minyak dunia. Pernyataan ini memberikan landasan kebijakan pemerintah dalam menetapkan tarif penjualan BBM jenis tersebut di dalam negeri.
Meskipun terjadi gejolak pada harga minyak global, pemerintah menekankan bahwa BBM bersubsidi tetap menjadi prioritas perlindungan. "Sementara [sementara] harga BBM bersubsidi Pertalite dan Solar tidak naik. Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan," ujar Teddy Indra Wijaya dalam unggahan di akun Instagram Sekretariat Kabinet, dikutip Sabtu (13/6/2026).
Perkembangan harga minyak dunia menunjukkan volatilitas; pada pekan ini, harga Minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat turun hampir 3% menuju level US$85 per barel saat pembukaan. Penurunan ini terjadi setelah sempat ditutup 2,6% lebih rendah pada hari Kamis sebelumnya, sementara Brent ditutup mendekati US$90 per barel.
Penurunan harga minyak mentah global ini dikaitkan dengan perkembangan diplomasi internasional. Harga minyak terus menunjukkan tren penurunan setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan kemungkinan kesepakatan damai dengan Iran dapat ditandatangani paling cepat akhir pekan ini.
Lebih lanjut, Teddy Indra Wijaya juga membandingkan harga Pertamax di Indonesia dengan harga BBM sejenis di negara-negara tetangga. Meskipun terjadi kenaikan, harga di dalam negeri masih dinilai kompetitif jika dibandingkan dengan nilai oktan yang setara.
Sebagai ilustrasi perbandingan, Teddy menyebutkan bahwa harga BBM dengan Research Octane Number (RON) 92 atau 95 di Filipina mencapai Rp22.158, di Laos Rp31.945, Thailand Rp28.910, Myanmar Rp25.085, dan Singapura bahkan mencapai Rp42.971.