BISNIS.HOTNEWS.ID - Kondisi nilai tukar Rupiah yang terus melemah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kini mulai memberikan tekanan signifikan terhadap sektor bisnis ritel di Indonesia. Dampak langsung dari pelemahan mata uang domestik ini dirasakan oleh para pengelola pusat perbelanjaan atau mal di seluruh negeri.
Pukulan finansial ini dipicu oleh kenaikan biaya operasional yang substansial, yang secara langsung membebani manajemen pusat perbelanjaan. Peningkatan biaya ini mencakup sektor energi hingga komponen vital lainnya seperti logistik pengiriman barang dan jasa.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyampaikan keluhan ini saat menghadiri sebuah acara resmi di ibu kota. Ia menyoroti bahwa kenaikan biaya merupakan konsekuensi tak terhindarkan dari fluktuasi kurs mata uang asing.
Alphonzus Widjaja menyampaikan hal ini secara spesifik ketika berada di Kementerian Perdagangan (Kemendag) Jakarta pada hari Senin, 8 Juni 2026. Momen tersebut terjadi dalam rangka Peluncuran Program BINA Holiday & Back to School yang diadakan di kantor kementerian tersebut.
"Saat ini kalau boleh izin kami ingin melaporkan bahwa biaya-biaya operasional di pusat perbelanjaan meningkat, terutama dari sisi biaya logistik," ujar Alphonzus Widjaja. Pernyataan ini menggarisbawahi sektor logistik sebagai salah satu lini yang paling terdampak pelemahan Rupiah.
Salah satu komponen biaya yang mengalami kenaikan paling signifikan adalah harga gas alam terkompresi atau CNG yang digunakan dalam operasional mal. Kenaikan ini menjadi perhatian utama para pengelola fasilitas tersebut.
Alphonzus Widjaja kemudian menjelaskan bahwa harga CNG memiliki keterkaitan erat dan bergantung langsung pada pergerakan kurs Dolar AS. Ketergantungan ini menyebabkan harga gas tersebut mengalami penyesuaian kenaikan setiap bulannya.
Akibat dari ketergantungan harga CNG pada kurs Dolar AS, maka secara otomatis terjadi kenaikan biaya pengadaan gas tersebut setiap bulannya. Hal ini memaksa pengelola mal untuk menanggung beban finansial yang lebih besar dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
Dikutip dari informasi yang disampaikan dalam acara tersebut, para pengusaha berharap adanya perhatian lebih lanjut dari pihak terkait mengenai stabilitas nilai tukar dan dampaknya terhadap biaya bisnis domestik.