BISNIS.HOTNEWS.ID - Rupiah mengawali perdagangan pasar spot pekan ini dengan tren pelemahan yang cukup signifikan. Mata uang Garuda tercatat melemah 0,47% dan diperdagangkan di angka Rp17.980 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini tidak hanya terjadi di pasar domestik. Rupiah juga dilaporkan kembali tersungkur di pasar luar negeri. Pada pukul 09:00 WIB, pelemahan tercatat sebesar 0,21% dengan nilai tukar mencapai Rp18.031 per dolar AS.

Tak berhenti di situ, tren pelemahan rupiah berlanjut dalam tempo singkat. Selang delapan menit kemudian, tepatnya pada pukul 09:08 WIB, mata uang Indonesia semakin tertekan dengan pelemahan mencapai 0,55%, diperdagangkan pada level Rp17.992 per dolar AS.

Salah satu faktor utama yang memicu pelemahan rupiah adalah ketidakpastian yang kembali membayangi kawasan Timur Tengah. Konflik yang masih berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan utama.

"Konflik yang masih terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran telah mengerek harga minyak brent ke level US$90 per barel," demikian dikutip dari Bloomberg Technoz.

Kenaikan harga minyak mentah jenis Brent ini berpotensi memberikan beban tambahan pada fiskal Indonesia. Hal tersebut dikarenakan pemerintah masih menerapkan kebijakan subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM).

Situasi global yang penuh ketidakpastian ini turut mempengaruhi pergerakan mata uang di Benua Asia. Pasar keuangan Asia menunjukkan gambaran yang beragam, mencerminkan sentimen yang berbeda antar negara.

Di tengah pelemahan rupiah, mata uang Korea Selatan, won, justru berbalik arah dan memimpin penguatan di zona hijau. Disusul oleh ringgit Malaysia yang turut mencatatkan penguatan.

Penguatan ringgit Malaysia didorong oleh rilis data pertumbuhan ekonomi negara tersebut yang mencapai 5,8%. Angka ini melampaui ekspektasi para ekonom dan analis yang sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,2%.