BISNIS.HOTNEWS.ID - Rupiah menunjukkan penguatan terbatas di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) pada sesi perdagangan Rabu (22/7/2026). Awalnya, mata uang Garuda membuka perdagangan dengan posisi stagnan.
Namun, rupiah kemudian mendapatkan momentum dengan mencatatkan penguatan sebesar 0,04%. Nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.946 per dolar AS.
Terbatasnya apresiasi rupiah di pasar offshore ini sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah. Harga minyak kembali menyentuh angka US$91,59 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh eskalasi konflik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran baru di pasar global.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan sikap tegasnya. Ia menegaskan akan memberikan respons jika kelompok Houthi, yang mendapat dukungan dari Iran, mengganggu pelayaran di Laut Merah. Trump juga kembali menegaskan ancaman untuk menyerang fasilitas nuklir Iran.
Meskipun demikian, pelemahan yang terjadi pada dolar AS memberikan sedikit ruang bagi mata uang Asia untuk menguat. Indeks dolar tercatat menyusut 0,04% dan berada di posisi 101,13.
Dari pasar mata uang Asia yang telah dibuka, won Korea Selatan menunjukkan penguatan signifikan sebesar 0,2%. Yen Jepang, yuan offshore, dan dolar Hong Kong juga turut menguat, meskipun dalam skala yang lebih terbatas.
Di sisi lain, ringgit Malaysia kembali mengalami pelemahan sebesar 0,13%. Dolar Singapura juga mengikuti tren pelemahan ini.
Meskipun demikian, ruang untuk apresiasi rupiah diperkirakan masih terbuka lebar. Hal ini didukung oleh ekspektasi pasar terhadap langkah kebijakan Bank Indonesia (BI).