BISNIS.HOTNEWS.ID - Perum Bulog memiliki mandat penting untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional, khususnya komoditas jagung. Tugas utama mereka adalah menyerap minimal 1 juta ton jagung dari petani sepanjang tahun untuk keperluan cadangan pemerintah.

Namun, berdasarkan data terbaru, capaian penyerapan di lapangan masih menunjukkan angka yang relatif rendah hingga pertengahan tahun ini. Hal ini menjadi sorotan serius dalam evaluasi kinerja lembaga pangan negara tersebut.

Apa yang menjadi capaian sejauh ini? Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rachmat Pambudy, memaparkan bahwa realisasi cadangan jagung pemerintah per tanggal 6 Juli 2026 baru menyentuh angka 190 ribu ton.

Angka 190 ribu ton tersebut secara persentase baru setara dengan 19% dari total target 1 juta ton yang telah ditetapkan pemerintah. Penyerapan ini menunjukkan peningkatan tipis jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2025, capaian serapan jagung oleh Bulog hanya berhasil menyentuh 101,8 ribu ton. Hal ini berarti realisasi di tahun 2025 hanya mencapai 10% dari target yang ditetapkan.

Perbandingan ini mengindikasikan bahwa meskipun ada sedikit peningkatan kinerja di tahun 2026, upaya penyerapan masih memerlukan pembenahan signifikan agar target akhir tahun dapat terpenuhi.

Menteri PPN/Bappenas menyampaikan keprihatinannya atas lambatnya proses penyerapan ini saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Evaluasi ini dilakukan untuk mencari solusi strategis ke depan.

"Baru tercapai 10% (di 2025), baru tercapai 19% dari target (2026). Ini harus ada perbaikan mendasar," ungkap Rachmat Pambudy dalam forum resmi tersebut.

Pernyataan ini disampaikan oleh Rachmat Pambudy pada hari Kamis, 9 Juli 2026, dalam sesi rapat kerja yang membahas kinerja dan perencanaan pembangunan nasional di hadapan anggota dewan.