BISNIS.HOTNEWS.ID - Perubahan signifikan dalam mekanisme penyaluran bantuan sosial (bansos) di Indonesia telah diumumkan oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan. Arahan ini menandakan pergeseran dari distribusi barang menjadi bentuk dukungan finansial langsung kepada masyarakat membutuhkan.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas dalam penyaluran bantuan kepada kelompok sasaran. Fokus utama kini beralih ke metode yang dianggap lebih fleksibel bagi para penerima manfaat.

Menurut data yang telah dihimpun oleh Luhut, setiap individu yang terdaftar sebagai penerima manfaat bansos akan mendapatkan alokasi dana sebesar Rp 5,4 juta. Jumlah ini merupakan besaran transfer tunai langsung yang akan mereka terima secara berkala.

Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Luhut Binsar Pandjaitan saat memberikan keterangan mengenai kebijakan baru tersebut. "Bansos ke depan tidak akan berbentuk barang. Menurut Luhut bansos akan disalurkan tunai atau direct cash transfer," ujar beliau.

Lebih lanjut, besaran nominal yang telah ditetapkan tersebut mengindikasikan komitmen untuk memberikan dukungan finansial yang substansial. "Berdasarkan data yang dihimpunnya, menurut Luhut setiap penerima manfaat bansos akan menerima direct cash transfer Rp 5,4 juta," kata Luhut.

Selain perubahan metode penyaluran, terdapat inovasi teknologi yang akan diterapkan dalam proses pendataan dan pengelompokan penerima. Sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan digunakan untuk memvalidasi dan mengkategorikan para penerima.

Teknologi AI ini diharapkan mampu memitigasi potensi kesalahan sasaran (mis-targeting) yang sering terjadi dalam program bantuan sosial berskala besar. Penerima bansos tunai tersebut akan dikelompokkan berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh sistem AI tersebut.

"Selain itu, kata Luhut, para penerima bansos tunai tersebut akan dikelompokkan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)," kutip Luhut mengenai implementasi teknologi dalam penyaluran bansos.

Perubahan paradigma dari barang ke tunai, didukung oleh klasifikasi berbasis AI, diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih efektif dan tepat sasaran bagi upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia. Dikutip dari sumber informasi mengenai kebijakan ekonomi nasional.