BISNIS.HOTNEWS.ID - Indonesia kini tengah menjajaki peluang signifikan untuk memperluas pasar ekspor produk pertaniannya, terutama beras, ke Singapura. Langkah ini diambil menyusul kondisi stok beras nasional yang dilaporkan telah mencapai angka yang sangat memadai.

Inisiatif penting ini diwujudkan melalui pertemuan bilateral antara Menteri Pertanian Indonesia, Andi Amran Sulaiman, dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu. Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk membahas secara konkret potensi kerja sama perdagangan pangan kedua negara.

Fokus utama dalam agenda pertemuan tersebut adalah usulan konkret mengenai pengiriman beras Indonesia ke pasar Singapura. Secara spesifik, Indonesia mengajukan rencana untuk mengekspor sebanyak 10.000 ton beras ke negara tetangga tersebut.

Lokasi pertemuan strategis ini berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Pertanian RI, Jakarta. Pertemuan ini menandai upaya berkelanjutan kedua negara dalam memperkuat hubungan bilateral di sektor ketahanan pangan.

Selain beras sebagai komoditas unggulan yang diusulkan, Indonesia juga membuka pintu untuk peningkatan ekspor komoditas pangan strategis lainnya. Beberapa komoditas yang turut dibahas termasuk ayam, telur, minyak sawit, serta kelapa.

Lebih dari sekadar transaksi jual beli, kedua belah pihak juga berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi dalam aspek teknis dan inovasi. Kesepakatan ini mencakup pertukaran teknologi dan inovasi terkini di sektor pertanian untuk mendukung ketahanan pangan bersama.

Mengenai rencana ekspor tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan secara rinci mengenai usulan yang diajukan kepada delegasi Singapura. "Kami mengusulkan ekspor minimal 10 ribu ton beras dari Indonesia ke Singapura. Selain itu, kami juga ingin meningkatkan kerja sama untuk komoditas ayam, telur, minyak sawit, serta memperkuat pertukaran teknologi pertanian," kata Amran dalam keterangan tertulis.

Lebih lanjut, Amran menekankan bahwa kolaborasi yang diinisiasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat timbal balik bagi perekonomian kedua negara. "Ini menjadi langkah kolaborasi yang saling menguntungkan bagi kedua negara," tambah Amran, yang pernyataannya dirilis pada Senin (29/6/2026).

Dilansir dari sumber berita yang meliput pertemuan tersebut, kesepakatan untuk memperkuat pertukaran teknologi pertanian menunjukkan komitmen jangka panjang dalam menjaga stabilitas pasokan pangan melalui modernisasi sektor pertanian.